Blog

  • Malam Magis Bersama Camila Cabello, Kotak Raksasa, Energi Panggung, dan Sentuhan Nostalgia

    Jakarta Menyambut Bintang Pop Dunia

    SUARAJIWAMUSIC. Malam 22 Agustus 2025 menjadi momen istimewa bagi ribuan penikmat musik di Jakarta. Untuk pertama kalinya, Camila Cabello penyanyi pop dunia dengan segudang hits internasional hadir di panggung LaLaLa Fest 2025. Kehadirannya bukan sekadar konser biasa, melainkan sebuah perayaan musik yang penuh energi, visual unik, hingga momen emosional yang membekas di hati penggemar.

    Sejak awal, atmosfer festival terasa berbeda. Para penonton memenuhi area konser dengan antusias, sebagian membawa poster bergambar wajah Camila, sebagian lain meneriakkan namanya bahkan sebelum ia muncul. Semua terasa seperti malam yang sudah lama ditunggu-tunggu.

    Kejutan dari Kotak Raksasa

    Panggung LaLaLa Fest tahun ini menghadirkan sesuatu yang tidak biasa, sebuah kotak putih raksasa berdiri megah di tengah panggung utama. Kotak inilah yang kemudian menjadi kejutan pembuka penampilan Camila. Saat lampu meredup dan dentuman musik pembuka “Shameless” terdengar, kotak tersebut terbuka dan Camila muncul dengan penuh percaya diri.

    Momen itu sontak memicu teriakan penonton yang menggema di seluruh arena. Visual kotak raksasa bukan sekadar dekorasi, tetapi juga bagian dari alur pertunjukan yang kreatif. Penari latar bahkan sempat muncul dari dalam kotak, menambah elemen teatrikal pada konser.

    Lagu-Lagu Hits yang Membakar Semangat

    Setelah pembuka yang megah, Camila melanjutkan aksinya dengan lagu-lagu populer seperti “Liar”, “Baby Pink”, dan “He Knows.” Gerakan koreografi yang energik dipadukan dengan sorotan lampu membuat setiap lagu terasa seperti adegan dalam sebuah drama musikal.

    Meski dikenal sebagai bintang pop internasional, Camila tidak menciptakan jarak dengan penonton. Ia beberapa kali menyapa penggemar dengan hangat:

    “Terima kasih! Ini pertama kalinya saya di Jakarta. Saya bisa lihat semua postermu! I love you guys so much! Let’s having amazing time tonight.”

    Ucapan sederhana itu membuat penonton merasa dihargai, seolah ada komunikasi langsung antara sang bintang dengan ribuan orang yang hadir.

    Empat Babak, Empat Nuansa Berbeda

    Konser Camila dibagi ke dalam empat segmen utama. Setiap babak memiliki suasana berbeda mulai dari eksplosif, penuh semangat, hingga intim dan emosional.

    • Babak Pertama: Energi penuh dengan tarian dan lagu-lagu upbeat.
    • Babak Kedua: Kotak raksasa terbuka lebih lebar, menampilkan instalasi visual yang artistik.
    • Babak Ketiga: Suasana melankolis dengan iringan piano. Di sinilah Camila membawakan lagu “B.O.A.T.” dan menyampaikan pesan mendalam tentang perjalanan hidup, cinta, hingga luka emosional yang bisa dialami siapa saja.
    • Babak Keempat: Panggung ditutup dengan sentuhan nostalgia lewat sebuah cover legendaris.

    Momen ketika ia berkata:

    “Kita semua pasti punya masa terendah. Putus cinta, atau mungkin bertengkar dengan orang terdekat. Malam ini, lepaskan semuanya di sini,”

    menjadi pengingat bahwa musik bisa menjadi ruang pelepasan emosi.

    Kedekatan dengan Penggemar

    Salah satu yang membuat konser ini terasa istimewa adalah bagaimana Camila membuka diri kepada penggemarnya. Ia menceritakan sedikit tentang asal-usulnya sebagai musisi dari Miami, serta rasa syukurnya bisa tampil di hadapan penonton Jakarta yang begitu hangat.

    “Aku tidak pernah berekspektasi akan mendapat sambutan sebesar ini. Bahkan kalian menaruh wajahku di poster-poster, itu sangat keren. Terima kasih sudah menungguku begitu lama,” ujarnya dengan tulus.

    Respon penonton? Sorakan, teriakan, hingga nyanyian bersama yang membuat atmosfer malam itu semakin emosional.

    Penutup dengan Sentuhan The Cranberries

    Sebagai klimaks, Camila memilih menutup konser dengan lagu “Linger”, karya legendaris dari band The Cranberries yang dirilis pada tahun 1993. Dengan hanya diiringi gitar akustik, suasana menjadi hening sejenak, kemudian berubah menjadi koor massal saat penonton ikut bernyanyi bersama.

    Pilihan lagu tersebut seakan menjadi jembatan lintas generasi. Bukan hanya penggemar Camila yang terhibur, tetapi juga pecinta musik klasik yang mengenang kembali era 90-an.

    Festival Bertabur Bintang

    Meski Camila Cabello menjadi bintang utama, LaLaLa Fest 2025 juga menghadirkan deretan musisi lain yang tak kalah menarik, mulai dari Alpha Yang, Johnny Stimson, Beach Weather, Hollow Coves, hingga The Rose. Keberagaman line-up menjadikan festival ini tidak hanya sekadar konser, melainkan pesta musik besar yang menawarkan pengalaman lengkap bagi pengunjung.

    Refleksi Lebih dari Sekadar Konser

    Apa yang membuat malam itu begitu berkesan bukan hanya karena Camila membawakan lagu-lagunya, melainkan bagaimana ia menghadirkan pengalaman yang menyentuh emosi. Kotak raksasa, tata cahaya, koreografi, hingga pilihan lagu semuanya dirancang untuk bercerita.

    Malam itu bukan sekadar konser, tapi sebuah perjalanan emosional dari energi eksplosif, pesan motivasi, hingga nostalgia mendalam.

    Penutup

    Kehadiran Camila Cabello di Jakarta untuk pertama kalinya jelas meninggalkan jejak manis bagi penggemar. Dengan perpaduan visual yang nyentrik, interaksi hangat, serta keberanian membawakan lagu legendaris, ia berhasil menyajikan malam yang sulit dilupakan.

    LaLaLa Fest 2025 pun membuktikan diri sebagai salah satu festival musik internasional yang paling ditunggu di Indonesia. Dan bagi banyak orang yang hadir malam itu, “malam bersama Camila Cabello” akan selalu dikenang sebagai pengalaman musik yang magis.

  • Indonesia Pusaka, Nada Abadi dari Ismail Marzuki yang Menyentuh Jiwa Bangsa

    Lagu yang Tak Pernah Lekang oleh Waktu

    SUARAJIWAMUSIC. Di antara deretan lagu wajib nasional yang sering kita dengar, ada satu karya yang begitu khas, lembut namun penuh makn, Indonesia Pusaka. Lagu ini lahir dari tangan dingin seorang maestro musik tanah air, Ismail Marzuki, yang dikenal produktif menciptakan tembang-tembang patriotik.

    Berbeda dari lagu perjuangan lain yang umumnya berirama tegas dan penuh semangat, Indonesia Pusaka justru menghadirkan nuansa syahdu, seolah-olah mengajak pendengarnya untuk merenung. Melodi yang sederhana, lirik yang mengalun pelan, membuat lagu ini terasa seperti doa bagi tanah air tercinta. Tidak heran bila lagu ini kerap dinyanyikan pada momen kenegaraan, acara wisuda, hingga pertunjukan seni di sekolah maupun kampus.

    Lirik dan Chord Indonesia Pusaka

    Salah satu daya tarik lagu ini adalah kesederhanaannya. Liriknya mudah diingat, dan chord gitar yang digunakan pun relatif sederhana, sehingga lagu ini sering dimainkan dalam acara informal sekalipun.

    Berikut gambaran chord dan liriknya:

    Dm   G   C   C 

    Indonesia tanah air beta 

    Am   D   G 

    Pusaka abadi nan jaya 

    C    F 

    Indonesia sejak dulu kala 

    C    G   C 

    Selalu dipuja-puja bangsa 

    Di sana tempat lahir beta 

    E    Am 

    Dibuai, dibesarkan bunda 

    F    C 

    Tempat berlindung di hari tua 

    C    G   C 

    Sampai akhir menutup mata

    Jika diperhatikan, bait pertama mengajak kita mengenang tanah air sebagai pusaka abadi yang harus dijaga dan dicintai. Bait berikutnya lebih personal, menggambarkan Indonesia sebagai tempat lahir dan tumbuh, tempat kita kembali di masa tua, hingga akhir hayat.

    Makna Filosofis Lagu

    Di balik kata-kata yang sederhana, lagu Indonesia Pusaka menyimpan pesan mendalam. Ismail Marzuki seolah ingin menegaskan bahwa cinta tanah air bukan hanya soal membela dengan senjata, tetapi juga soal perasaan yang abadi.

    • Tanah Air sebagai Pusaka
      Kata pusaka menunjukkan bahwa Indonesia bukan sekadar wilayah geografis, tetapi warisan yang harus dijaga. Pusaka adalah sesuatu yang berharga, tidak tergantikan, dan diwariskan untuk generasi berikutnya.
    • Tempat Lahir dan Berlindung
      Lirik yang menyebut “tempat lahir beta, dibuai, dibesarkan bunda” menegaskan bahwa Indonesia adalah ibu yang melindungi. Tanah air adalah rumah, tempat kita kembali dan beristirahat, tempat di mana kita merasa aman.
    • Kesetiaan hingga Akhir Hayat
      Baris terakhir, “sampai akhir menutup mata”, menggambarkan janji kesetiaan. Cinta pada tanah air tidak pernah berhenti, bahkan hingga kita menutup mata untuk selamanya.

    Dengan begitu, lagu ini bukan hanya patriotik, melainkan juga sarat dengan nilai emosional dan spiritual.

    Tentang Sang Pencipta, Ismail Marzuki

    Lahir di Jakarta pada tahun 1914, Ismail Marzuki dikenal sebagai salah satu komponis terbesar yang dimiliki Indonesia. Sepanjang hidupnya, ia menulis lebih dari 200 lagu yang sebagian besar bertema cinta tanah air dan perjuangan.

    Karya-karyanya antara lain, Halo, Halo Bandung, Rayuan Pulau Kelapa, Selendang Sutra, hingga Gugur Bunga. Semua lagu tersebut masih sering dinyanyikan hingga kini.

    Indonesia Pusaka sendiri diperkirakan diciptakan sekitar tahun 1940-an, masa di mana semangat nasionalisme tengah bergelora. Uniknya, meski sudah berusia lebih dari setengah abad, lagu ini tetap relevan, membuktikan kualitasnya sebagai karya seni yang abadi.

    Peran Lagu dalam Kehidupan Masyarakat

    Hingga saat ini, Indonesia Pusaka sering dilantunkan dalam berbagai kesempatan resmi maupun nonresmi. Di sekolah, lagu ini biasa dinyanyikan saat peringatan hari besar nasional. Di acara kenegaraan, lagu ini menjadi salah satu repertoar wajib.

    Bahkan dalam suasana pribadi, banyak orang memilih menyanyikan Indonesia Pusaka di momen penuh haru seperti perpisahan sekolah, upacara kelulusan, atau acara kebudayaan. Kesyahduan nadanya membuat lagu ini mampu menyatukan rasa cinta tanah air dalam hati siapa pun yang mendengarnya.

    Mengapa Lagu Ini Tetap Relevan?

    Di era modern yang serba digital, mungkin kita bertanya, masih relevankah lagu lama seperti ini? Jawabannya, sangat relevan.

    Di tengah derasnya arus globalisasi, lagu ini mengingatkan kita bahwa identitas dan cinta tanah air tidak boleh luntur. Indonesia Pusaka mengajarkan generasi muda untuk tidak melupakan akar, meskipun dunia terus berubah. Lagu ini juga mengajarkan bahwa nasionalisme bisa diekspresikan dengan lembut, tidak selalu dengan teriakan lantang.

    Refleksi untuk Generasi Muda

    Generasi muda saat ini mungkin lebih sering mendengar musik pop, K-Pop, atau lagu internasional. Namun, memperkenalkan Indonesia Pusaka kepada mereka penting agar ada ikatan emosional dengan sejarah bangsa. Lagu ini bisa menjadi pintu masuk untuk memahami perjuangan para pendiri bangsa yang membangun Indonesia dengan pengorbanan besar.

    Lebih dari itu, Indonesia Pusaka adalah pengingat bahwa mencintai tanah air bukan hanya tugas pemerintah, tetapi kewajiban setiap warga negara. Melestarikan budaya, menjaga lingkungan, berbuat baik di masyarakat semua adalah wujud nyata dari cinta tanah air yang diungkapkan lewat lagu ini.

    Penutup

    Indonesia Pusaka bukan sekadar lagu wajib nasional. Ia adalah doa, janji, sekaligus pengingat bahwa Indonesia adalah pusaka abadi yang harus kita jaga. Melalui melodi yang sederhana namun menyentuh, Ismail Marzuki berhasil menuangkan cinta tanah air ke dalam karya seni yang melampaui zaman.

    Setiap kali kita menyanyikan bait “Indonesia tanah air beta, pusaka abadi nan jaya…”, seharusnya kita juga menanamkan dalam hati bahwa tanah air ini adalah anugerah, dan tugas kitalah untuk merawat serta mencintainya sampai akhir hayat.

  • Tissa Biani dan Langkah Berani, EP Apakah Kita sebagai Gerbang Baru di Dunia Musik

    SUARAJIWAMUSIC. Dalam dunia hiburan, nama Tissa Biani sudah tidak asing lagi. Selama ini, publik mengenalnya sebagai seorang aktris berbakat yang berhasil memikat hati penonton lewat berbagai peran di layar kaca maupun layar lebar. Namun, pada pertengahan Agustus 2025, Tissa menunjukkan sisi lain dari dirinya, seorang musisi yang berani keluar dari zona nyaman dengan merilis EP (Extended Play) perdana berjudul Apakah Kita.

    Karya ini bukan hanya sekadar proyek musik biasa. Bagi Tissa, mini album tersebut adalah simbol keberanian sekaligus wujud nyata dari mimpi yang selama ini dipendam. Dalam peluncurannya di kawasan Gunawarman, Jakarta Selatan, Rabu, 20 Agustus 2025, Tissa dengan penuh antusias berbagi cerita tentang proses kreatifnya, inspirasi yang ia dapatkan, hingga tantangan yang harus ia hadapi ketika berpindah dari dunia akting ke ranah musik.

    Dari Layar Lebar ke Studio Musik

    Beralih dari akting ke musik tentu bukan hal yang mudah. Tissa mengakui bahwa dirinya sempat tidak terpikir untuk benar-benar menekuni dunia tarik suara. Namun, kesempatan datang ketika ia diajak untuk mengeksplorasi lebih dalam potensi bermusiknya.

    “Kalau ditanya bagaimana rasanya, saya excited banget, super excited malah. Ini pertama kali saya merilis EP, dan sebelumnya tidak pernah terpikir akan sampai ke tahap ini,” ujar Tissa dalam konferensi pers.

    Pernyataan itu menggambarkan perasaan campur aduk, gugup sekaligus bahagia, namun juga penuh rasa syukur.

    Isi EP Apakah Kita

    Mini album ini terdiri dari empat lagu, masing-masing dengan warna cerita yang berbeda namun tetap memiliki benang merah: pertanyaan dalam hubungan manusia. Judul-judul lagunya pun dirancang sebagai bentuk refleksi:

    • Apakah Kita Hanya Bercanda
    • Pernah Sangat Bahagia
    • Tak Lagi Ragu
    • Gelora Asmara (remake)

    Tiga lagu pertama adalah karya baru yang menghadirkan nuansa pop dengan sentuhan emosional. Sementara Gelora Asmara menghadirkan rasa nostalgia karena merupakan lagu populer dari sinetron Kepompong yang dulu sempat melejit.

    Menurut Tissa, pilihan tema pertanyaan bukan tanpa alasan. “Kenapa judulnya Apakah Kita? Karena menurut saya, lagu-lagu di EP ini mewakili pertanyaan yang sering muncul dalam sebuah hubungan. Ada rasa ragu, ada kebahagiaan, ada juga ketidakpastian,” jelasnya.

    Kolaborasi dan Proses Kreatif

    EP ini tidak lahir begitu saja. Di baliknya ada proses panjang dan kolaborasi dengan orang-orang yang tepat. Salah satunya adalah Evan, yang menjadi produser sekaligus kolaborator penting dalam penyusunan aransemen musik.

    Tissa mengungkapkan bahwa keterlibatan Evan sangat membantu dirinya menemukan arah musik yang sesuai dengan karakter vokalnya. Melalui diskusi intens, pencarian nada, hingga eksperimen aransemen, keduanya berhasil menghasilkan komposisi yang segar namun tetap mudah dinikmati.

    Dukungan dan Apresiasi

    Peluncuran Apakah Kita juga mendapatkan sambutan positif dari rekan-rekan sesama musisi. Salah satunya adalah Derby Romero, yang memberikan pujian khusus untuk versi terbaru Gelora Asmara. Menurut Derby, Tissa berhasil membawakan lagu itu dengan nuansa retro klasik, namun tetap terasa manis, romantis, bahkan genit dengan cara yang sederhana.

    Apresiasi tersebut menjadi energi tambahan bagi Tissa, yang masih tergolong pendatang baru di industri musik.

    Tantangan dan Perubahan Perspektif

    Menariknya, perjalanan Tissa tidak selalu mulus. Dwi Santoso, A&R dari label Trinity Optima Production, mengaku sempat meragukan langkah Tissa. Baginya, sulit membayangkan seorang aktris yang terbiasa berakting mampu menghasilkan karya musik yang orisinal. Namun, keraguan itu runtuh ketika ia menyaksikan langsung bagaimana Tissa berproses dalam sesi songwriting.

    “Chord-nya unik, melodinya juga segar. Saya justru jadi yakin kalau Tissa punya potensi besar di musik,” ungkap Dwi.

    Sejak saat itu, Dwi memberikan kebebasan lebih kepada Tissa untuk bereksperimen dengan musiknya, termasuk dalam menentukan arah artistik EP ini.

    Keluar dari Zona Nyaman

    Bagi Tissa, merilis EP ini bukan hanya sekadar proyek karier, melainkan juga bukti bahwa ia mampu menantang dirinya sendiri. “Saya tidak ingin mengecewakan orang-orang yang sudah mendukung saya. Harapannya, karya ini bisa sampai ke pendengar baru dan diterima dengan baik,” tuturnya.

    Langkah keluar dari zona nyaman ini patut diapresiasi. Ia tidak sekadar menempelkan label “penyanyi” pada dirinya, melainkan benar-benar bekerja keras untuk membuktikan bahwa ia serius dalam bermusik.

    Harapan untuk Masa Depan

    Dengan dirilisnya Apakah Kita, Tissa membuka bab baru dalam perjalanan seninya. Ia tidak hanya ingin dikenal sebagai aktris, tetapi juga musisi yang mampu menyampaikan cerita lewat lagu.

    Ia berharap mini album ini bisa menjadi jembatan menuju karya-karya yang lebih besar di masa depan. “Semoga EP ini bukan yang pertama dan terakhir, tapi awal dari perjalanan panjang saya di dunia musik,” kata Tissa optimis.

    Penutup

    Perilisan EP Apakah Kita membuktikan bahwa keberanian untuk mencoba hal baru bisa membawa seseorang pada pencapaian yang tidak pernah dibayangkan sebelumnya. Tissa Biani berhasil memperlihatkan sisi lain dari dirinya, seorang musisi yang tulus, berani, dan siap berkarya lebih jauh.

    Melalui empat lagu yang penuh makna, Tissa mengajak pendengar untuk merenung, bertanya, sekaligus merayakan dinamika hubungan manusia. Dan yang paling penting, ia menunjukkan bahwa seni tidak mengenal batas selama ada niat, kerja keras, dan keberanian, setiap orang bisa menciptakan karya yang menginspirasi.

  • Royalti Musik di Indonesia Ketika Penyanyi Kaya Menolak Bayar, Komposer yang Jadi Korban

    SUARAJIWAMUSIC. Dunia musik Indonesia kembali diguncang oleh isu sensitif, royalti lagu. Topik ini bukan hal baru, namun kali ini mencuat lebih panas karena melibatkan nama besar seperti Ahmad Dhani, Ari Bias, hingga Agnez Mo. Perdebatan panjang ini kembali membuka luka lama: apakah sistem royalti kita sudah adil bagi para pencipta lagu, atau justru semakin menyudutkan mereka?

    Kritik Pedas dari Ahmad Dhani

    Ahmad Dhani, musisi senior yang dikenal lugas dan tak segan mengkritik, mengunggah keresahannya lewat akun Instagram resminya pada 13 Agustus 2025. Ia mempertanyakan peran Wahana Musik Indonesia (WAMI) lembaga yang seharusnya melindungi hak cipta music karena dianggap tidak konsisten dalam menegakkan aturan.

    Menurut Dhani, WAMI begitu tegas saat menagih royalti dari pelaku usaha seperti kafe, restoran, atau hotel. Namun, ketika berhadapan dengan penyanyi atau band besar yang sudah kaya raya, ketegasan itu seolah hilang.

    “Kenapa WAMI tajam ke kafe, resto, hotel? Tapi tumpul ke penyanyi atau band kaya raya yang menolak bayar fee komposer, bahkan menolak izin ke komposer,” tulisnya.

    Lebih jauh, Dhani juga menyoroti fenomena hajatan atau pernikahan yang memutar lagu tanpa izin dari penciptanya. Ia menilai sistem yang berjalan saat ini berantakan, hingga menyebabkan para pencipta lagu semakin tersisih.

    “Ini siapa sih yang bikin sistem kok ancur banget? Pantes nasib komposer ancur,” tambahnya dengan nada getir.

    Sengketa Ari Bias dan Agnez Mo

    Kontroversi soal royalti makin memanas setelah muncul kasus sengketa antara Ari Bias, seorang komposer, dan Agnez Mo, penyanyi bertaraf internasional. Lagu yang menjadi inti persoalan adalah Bilang Saja.

    Ari Bias merasa karyanya digunakan tanpa izin, sehingga ia mengajukan gugatan hukum. Namun, Mahkamah Agung (MA) pada 11 Agustus 2025 memutuskan bahwa Agnez Mo tidak bersalah. Ia tidak diwajibkan membayar royalti ataupun meminta izin secara formal kepada komposer.

    Meskipun kalah, Ari Bias memilih sikap besar hati. Ia menyatakan tidak akan melanjutkan kasus ini ke tingkat Peninjauan Kembali (PK). Bahkan laporan yang sempat diajukan ke kepolisian pun siap ia cabut. Namun, Ari tetap menegaskan haknya terhadap penyelenggara acara yang menggunakan lagu tersebut. Dengan kata lain, ia mengalihkan fokus tuntutannya bukan kepada Agnez Mo lagi, melainkan kepada pihak-pihak lain yang memanfaatkan lagu tanpa prosedur.

    Kerangka Hukum Royalti Musik

    Perlu dipahami, royalti bukan sekadar formalitas. Dalam UU No. 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta disebutkan bahwa setiap pemanfaatan karya cipta, termasuk lagu, wajib melalui izin dan pembayaran royalti. Aturan ini diperkuat dengan PP No. 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Lagu/Musik.

    Bukan hanya kafe, restoran, atau hotel yang diwajibkan membayar. Mall, bioskop, salon, spa, hingga transportasi umum juga harus tunduk pada regulasi ini. Bahkan pemutaran lagu melalui platform digital seperti YouTube atau Spotify tetap dihitung sebagai penggunaan komersial yang membutuhkan izin.

    Sistem pengelolaan ini berada di tangan Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Namun, dalam praktiknya, masyarakat sering kali merasa aturan ini tidak dijalankan dengan transparan. Inilah yang memunculkan kritik keras, terutama dari kalangan pencipta lagu yang merasa hak mereka sering diabaikan.

    • Ketimpangan yang Terlihat
      Dari dua kasus di atas kritik Ahmad Dhani dan sengketa Ari Bias terlihat jelas ada ketimpangan.
    • Penyanyi atau band besar
      Mereka mendapatkan keuntungan besar dari popularitas lagu, mulai dari penjualan, konser, hingga endorsement. Namun, sebagian di antaranya enggan membayar royalti kepada pencipta.
    • Pelaku usaha
      Kafe atau restoran justru menjadi target penagihan yang lebih ketat. Padahal banyak dari mereka hanya memutar musik sebagai pelengkap suasana, bukan sebagai produk utama.
    • Komposer
      Pihak inilah yang sering kali paling dirugikan. Padahal tanpa pencipta, lagu-lagu yang dibawakan penyanyi tidak akan pernah ada.

    Reaksi Publik

    Publik pun terbelah. Sebagian merasa aturan royalti sudah seharusnya ditegakkan demi melindungi pencipta lagu. Namun, tidak sedikit yang berpendapat bahwa sistem saat ini memberatkan, terutama bagi pelaku usaha kecil atau penyelenggara hajatan.

    “Memutar lagu untuk acara keluarga saja harus izin? Rasanya berlebihan,” begitu komentar warganet yang merasa aturan terlalu kaku.

    Di sisi lain, banyak juga yang mendukung Ahmad Dhani. Mereka menilai penyanyi besar seharusnya memberi contoh dengan menghargai karya komposer. “Kalau penyanyi sukses saja menolak bayar, bagaimana orang lain mau patuh?” ujar komentar lain di media sosial.

    Tantangan ke Depan

    Isu royalti ini sebenarnya bisa menjadi momentum penting untuk memperbaiki ekosistem musik Indonesia. Beberapa poin yang perlu diperhatikan:

    • Transparansi Sistem
      Pencipta lagu berhak tahu berapa banyak karya mereka diputar, dan berapa royalti yang masuk.
    • Keadilan untuk Semua Pihak
      Baik pelaku usaha maupun penyanyi besar harus diperlakukan sama. Tidak boleh ada kesan tebang pilih.
    • Edukasi Publik
      Banyak masyarakat yang belum paham kenapa royalti itu penting. Edukasi bisa membuat orang lebih menghargai karya.
    • Sikap Musisi Senior
      Suara lantang dari tokoh-tokoh seperti Ahmad Dhani menjadi pengingat bahwa persoalan ini tidak bisa lagi diabaikan.

    Penutup

    Kontroversi royalti yang melibatkan Ahmad Dhani, Ari Bias, dan Agnez Mo kembali menyadarkan kita betapa rapuhnya sistem perlindungan hak cipta di Tanah Air. Musisi pencipta lagu sering kali menjadi pihak yang paling menderita, sementara penyanyi atau band besar bisa saja lolos dari kewajiban.

    Jika tidak ada perubahan, bukan tidak mungkin generasi komposer berikutnya semakin enggan berkarya. Padahal, tanpa pencipta lagu, dunia musik Indonesia akan kehilangan ruh utamanya.

    Royalti bukan sekadar angka, melainkan bentuk penghargaan atas karya dan jerih payah seorang seniman. Semoga ke depan, sistem yang lebih adil dan transparan bisa benar-benar diterapkan, sehingga semua pihak baik komposer, penyanyi, maupun pelaku usaha bisa hidup berdampingan dengan saling menghargai.

  • 3 Lagu Hits yang Identik dengan Semangat Indonesia

    SUARAJIWAMUSIC. Musik selalu memiliki kekuatan luar biasa untuk menyatukan orang, menggerakkan emosi, hingga membangkitkan kenangan kolektif. Di Indonesia, ada beberapa lagu yang tidak hanya sekadar hiburan, tetapi juga telah menjelma menjadi simbol semangat kebangsaan. Lagu-lagu ini kerap terdengar di stadion, perayaan kemerdekaan, acara komunitas, bahkan sampai diunggah ulang di media sosial sebagai bentuk ekspresi rasa cinta tanah air.

    Di tengah banyaknya karya musik yang lahir dari berbagai generasi, ada tiga lagu populer yang begitu melekat dengan identitas Indonesia: “Garuda di Dadaku” dari NTRL, “Bendera” dari Cokelat, dan “Dari Mata Sang Garuda” dari Pee Wee Gaskins. Masing-masing membawa nuansa berbeda, namun semuanya memiliki benang merah, membangkitkan kebanggaan menjadi bangsa Indonesia. Mari kita bahas satu per satu.

    1. Garuda di Dadaku – NTRL
      Siapa yang tidak kenal dengan lagu ini? “Garuda di Dadaku” telah lama menjadi semacam anthem tidak resmi bagi para pecinta sepak bola tanah air. Setiap kali tim nasional Indonesia bertanding, yel-yel ini hampir selalu terdengar bergema di tribun.
      Lagu yang dibawakan band NTRL ini memiliki lirik sederhana, mudah diingat, namun sangat kuat maknanya. Kata-katanya singkat, tetapi penuh dengan kebanggaan pada Garuda simbol negara Indonesia. Tak heran jika lagu ini kemudian menembus sekat generasi, dinyanyikan tidak hanya oleh fans musik rock, tetapi juga oleh anak-anak sekolah hingga masyarakat umum.
      Lebih dari sekadar lagu hiburan, “Garuda di Dadaku” seolah menjadi panggilan emosional. Setiap kali terdengar, ia mampu menyalakan semangat nasionalisme, membangkitkan motivasi, dan menyatukan suara-suara berbeda dalam satu ikatan yang sama, cinta Indonesia.
    2. Bendera – Cokelat
      Jika harus memilih lagu yang identik dengan suasana 17 Agustus, “Bendera” dari band Cokelat bisa jadi salah satu jawabannya. Lagu ini pertama kali dirilis tahun 2000-an dan hingga kini masih tetap relevan. Banyak orang menganggapnya sebagai lagu wajib dalam perayaan kemerdekaan, lomba Agustusan, maupun acara sekolah.
      Keistimewaan lagu “Bendera” terletak pada liriknya yang lugas sekaligus membangkitkan semangat juang. Kata-kata tentang kesetiaan pada merah putih bukan hanya menggambarkan rasa cinta, tetapi juga menyiratkan ajakan untuk tetap berdiri tegak meski menghadapi tantangan.
      Aransemen musiknya yang kuat dan penuh energi membuat pendengarnya ikut terbawa dalam suasana heroik. Tidak sedikit generasi muda yang awalnya mendengar lagu ini hanya sebagai musik populer, tetapi kemudian merasa terhubung dengan pesan nasionalisme yang disampaikan. “Bendera” telah membuktikan bahwa sebuah lagu pop rock bisa menjadi medium ampuh untuk menyalurkan kebanggaan sebagai bangsa Indonesia.
    3. Dari Mata Sang Garuda – Pee Wee Gaskins
      Berbeda dengan dua lagu sebelumnya yang cenderung mainstream, “Dari Mata Sang Garuda” hadir dari band dengan genre pop punk: Pee Wee Gaskins. Lagu ini memadukan semangat kebangsaan dengan beat cepat khas musik punk, menghadirkan nuansa yang lebih modern dan enerjik.
      Bagi generasi muda, terutama penggemar musik alternatif, lagu ini terasa lebih dekat. Semangat nasionalisme tidak hanya dibawakan dengan gaya serius, tetapi dikemas dalam musik yang fun, berani, dan penuh energi. Pesan tentang kebanggaan terhadap Indonesia tetap terasa kuat, meskipun disampaikan lewat gaya yang lebih ringan.
      “Dari Mata Sang Garuda” membuktikan bahwa nasionalisme bisa hadir dalam berbagai bentuk. Tidak harus selalu lewat lagu bertempo lambat atau syair formal, tetapi juga bisa melalui musik anak muda yang ekspresif dan penuh gairah. Inilah bukti bahwa cinta tanah air tidak mengenal batasan genre.

    Makna Lebih Dalam dari Tiga Lagu Ini

    Ketiga lagu ini memiliki keunikan masing-masing, tetapi ada benang merah yang menyatukan: semuanya berbicara tentang identitas, kebanggaan, dan cinta kepada Indonesia.

    • “Garuda di Dadaku” mengajak masyarakat untuk selalu mengingat simbol negara dengan rasa bangga.
    • “Bendera” menegaskan pentingnya kesetiaan dan keberanian menjaga merah putih.
    • “Dari Mata Sang Garuda” menunjukkan bahwa semangat kebangsaan bisa diekspresikan dengan gaya anak muda yang modern.

    Ketiganya juga punya daya hidup panjang. Walau sudah dirilis bertahun-tahun lalu, lagu-lagu ini masih sering digunakan di berbagai kesempatan hingga hari ini. Dari lapangan olahraga, panggung musik, hingga ruang kelas, semua bisa ikut menyanyikan bersama-sama.

    Musik sebagai Jembatan Nasionalisme

    Mengapa musik indonesia begitu ampuh membangkitkan rasa kebangsaan? Jawabannya ada pada kekuatan melodi dan lirik. Lagu lebih mudah diingat dibandingkan pidato panjang atau tulisan formal. Saat orang menyanyikan bersama-sama, ada perasaan persatuan yang terbentuk secara alami. Dan game pakai qris juga banyak menyediakan beragam permainan dengan tema Indonesia untuk memperkenalkan beragam budaya yang ada dinegara ini.

    Di Indonesia, musik memang sering menjadi media untuk menyuarakan aspirasi. Dari era perjuangan dengan lagu-lagu patriotik hingga kini dengan karya modern, musik selalu punya tempat di hati masyarakat. Ketiga lagu ini adalah bukti nyata bahwa nasionalisme bisa hadir dengan berbagai wajah: ada yang sederhana, ada yang heroik, ada pula yang enerjik khas anak muda.

    Penutup

    Lagu-lagu yang identik dengan Indonesia tidak hanya memperkaya khazanah musik tanah air, tetapi juga menjadi pengingat bahwa rasa cinta pada bangsa bisa diwujudkan dalam banyak cara. Entah lewat sorakan di stadion, perayaan kemerdekaan di kampung, atau konser musik anak muda, pesan yang dibawa tetap sama: kita bangga menjadi bagian dari Indonesia.

    “Garuda di Dadaku,” “Bendera,” dan “Dari Mata Sang Garuda” bukan sekadar lagu populer. Mereka adalah karya yang berhasil menembus waktu, generasi, dan ruang, menjadi bagian dari identitas kolektif bangsa. Jadi, kapan terakhir kali Anda menyanyikan salah satunya dengan penuh semangat?

  • Monolog Pamungkas, Lagu Lama yang Kembali Menggema, Kini Jadi Hits Paling Populer

    SUARAJIWAMUSIC. Setiap minggu, dunia musik Indonesia selalu menghadirkan cerita baru. Ada lagu yang naik ke permukaan, ada pula karya lama yang tiba-tiba kembali mendapatkan sorotan. Fenomena ini seakan menunjukkan bahwa musik memang tak pernah lekang dimakan waktu. Salah satu bukti nyatanya adalah lagu “Monolog” dari Pamungkas, yang pekan ini resmi menduduki posisi teratas sebagai lagu paling populer.

    Bagi sebagian pendengar setia Pamungkas, kabar ini mungkin tidak mengejutkan. Namun bagi publik yang baru saja mengenal lagu ini lewat media sosial, kemunculan “Monolog” di daftar hits adalah sesuatu yang menarik untuk dibahas. Bagaimana bisa sebuah lagu yang rilis bertahun-tahun lalu, kembali menjadi pembicaraan hangat hingga viral di berbagai platform?

    Sebuah Lagu dari Album Awal

    “Monolog” pertama kali diperkenalkan lewat album Walk The Talk. Album ini sebenarnya lahir pada tahun 2017, lalu digarap ulang dan diperbarui pada 2018 dengan beberapa sentuhan baru. Dari total 16 lagu di dalamnya, hanya tiga yang menggunakan lirik berbahasa Indonesia dan “Monolog” termasuk di antaranya.

    Di tengah karya-karya Pamungkas yang kebanyakan menggunakan bahasa Inggris, “Monolog” hadir seperti oase. Ia menyapa pendengar dengan bahasa ibu, membuat pesan emosional dalam liriknya terasa lebih dekat dan menyentuh. Tidak sedikit yang menilai bahwa lagu ini merupakan salah satu karya paling personal dari Pamungkas.

    Makna yang Membekas di Hati

    Jika ditelisik, “Monolog” berbicara tentang cinta yang sederhana namun kuat. Liriknya menggambarkan hubungan yang bertahan bukan karena waktu yang panjang, melainkan karena perasaan yang tak berubah.

    Ada nuansa kejujuran sekaligus kerentanan dalam lagu ini. Ia seakan mewakili banyak orang yang sulit mengungkapkan isi hati, namun ingin menunjukkan bahwa perasaan mereka masih sama seperti dulu. Kesederhanaan itulah yang membuat “Monolog” terasa autentik tak hanya sebagai lagu, tapi juga sebagai cerminan emosi yang universal.

    Perjalanan Viral, Dari Ajang Kompetisi Hingga TikTok

    Menariknya, kebangkitan “Monolog” dalam beberapa tahun terakhir tidak lepas dari pengaruh media sosial dan platform digital. Salah satu momen penting adalah ketika Salma Salsabil, finalis Indonesian Idol, membawakan lagu ini di panggung kompetisi. Penampilannya berhasil menyedot perhatian publik dan diunggah ke YouTube, di mana video tersebut kini telah ditonton jutaan kali.

    Setelah itu, “Monolog” perlahan menjadi lagu wajib di TikTok dan Instagram Reels. Banyak pengguna memanfaatkannya sebagai latar musik untuk video bernuansa emosional, baik itu potongan kisah cinta, perjalanan pribadi, atau sekadar potret kehidupan sehari-hari. Resonansi emosional dari lagu ini membuatnya cepat melekat dalam ingatan warganet.

    Fenomena ini membuktikan bahwa musik tak selalu membutuhkan strategi promosi besar-besaran. Kadang, cukup satu momen viral yang tulus, lalu semesta digital bekerja dengan sendirinya.

    Pamungkas dan Jejak Kariernya

    Pamungkas sendiri bukan nama baru dalam industri musik Indonesia. Penyanyi dan penulis lagu ini dikenal lewat gaya musiknya yang memadukan pop, indie, dan nuansa alternatif. Dengan karakter vokal yang khas dan penulisan lirik yang puitis, ia berhasil membangun basis penggemar yang solid.

    Karya-karyanya, seperti “To The Bone”, “I Love You but I’m Letting Go”, hingga “Flying Solo”, telah menembus pasar internasional dan mendatangkan jutaan streaming di berbagai platform musik. Namun menariknya, di tengah katalog lagu-lagu berbahasa Inggris yang mendominasi, justru “Monolog”—lagu berbahasa Indonesia yang kini kembali naik daun dan merajai chart.

    Hal ini sekaligus menjadi pengingat bahwa bahasa lokal tetap punya kekuatan yang besar untuk menyentuh hati, bahkan di tengah era globalisasi musik.

    Mengapa Bisa Naik Lagi Sekarang?

    Ada beberapa alasan mengapa “Monolog” kembali populer setelah sekian lama.

    • Lirik yang relevan sepanjang masa.
      Tema cinta yang tulus dan sederhana tidak pernah ketinggalan zaman. Siapa pun bisa merasa relate dengan pesan dalam lagu ini.
    • Kekuatan media sosial.
      Platform seperti TikTok dan YouTube berperan penting dalam menyebarkan lagu ini ke generasi pendengar baru.
    • Momentum nostalgia.
      Banyak pendengar lama yang kembali memutar “Monolog” untuk mengenang momen pribadi mereka di masa lalu, sehingga lagu ini menemukan jalannya ke hati pendengar baru maupun lama.
    • Penampilan cover yang ikonik.
      Versi Salma Salsabil dan sejumlah musisi lain membuat lagu ini seakan lahir kembali dengan interpretasi yang segar.

    Lebih dari Sekadar Lagu Populer

    Kini, “Monolog” bukan hanya lagu yang sedang hits. Ia menjadi semacam simbol bagaimana karya seni bisa hidup lebih lama dari perkiraan awal penciptanya. Lagu ini membuktikan bahwa kualitas akan menemukan jalannya, meskipun butuh waktu dan momentum tertentu untuk kembali bersinar.

    Di era ketika musik baru hadir setiap hari, “Monolog” berhasil menegaskan satu hal, karya yang tulus akan selalu menemukan pendengarnya.

    Kesimpulan

    Monolog” dari Pamungkas adalah bukti nyata bahwa sebuah lagu bisa melampaui waktu dan generasi. Meski dirilis bertahun-tahun lalu, kekuatan emosionalnya membuat lagu ini kembali relevan dan bahkan menjadi lagu paling populer pekan ini.

    Fenomena ini tidak hanya menandai keberhasilan Pamungkas sebagai musisi, tetapi juga memperlihatkan bagaimana musik dapat menjadi jembatan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan.

    Dan mungkin, di balik semua kesuksesan itu, ada pesan sederhana yang ingin disampaikan lewat “Monolog”, perasaan yang tulus tidak pernah using ia hanya menunggu saat yang tepat untuk kembali terdengar.

  • Sisca Saras & Aziz Hedra, Kolaborasi Manis yang Menembus Batas Musik

    SUARAJIWAMUSIC. Dalam dunia musik, kolaborasi sering kali menjadi momen spesial yang dinantikan oleh para pendengar. Namun, tidak semua duet mampu meninggalkan kesan yang begitu dalam. Salah satu kolaborasi terbaru yang berhasil memikat hati penikmat musik Indonesia adalah pertemuan antara Sisca Saras dan Aziz Hedra. Duet ini bukan hanya terdengar harmonis di telinga, tetapi juga menghadirkan nuansa emosional yang terasa tulus membuatnya lebih dari sekadar proyek kolaborasi biasa.

    Awal Mula Pertemuan Musik Dua Talenta

    Sisca Saras, yang dikenal dengan suara lembut dan teknik vokal yang halus, selama ini telah menempatkan dirinya sebagai penyanyi yang mengedepankan kualitas dan penghayatan dalam setiap lagu. Di sisi lain, Aziz Hedra hadir sebagai musisi dengan karakter vokal kuat, penuh pengendalian emosi, dan kaya akan warna nada. Pertemuan keduanya bisa diibaratkan seperti percampuran dua warna yang berbeda namun menghasilkan gradasi indah.

    Proyek duet ini bermula dari ide sederhana: menciptakan sebuah lagu yang mampu menyatukan kekuatan vokal mereka dan menyampaikan cerita mendalam kepada pendengar. Namun, prosesnya berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih personal. Kedua musisi ini ternyata memiliki kesamaan pandangan tentang musik sebagai media untuk menyampaikan perasaan yang kadang sulit diungkapkan dengan kata-kata.

    Lagu yang Mengalun dari Hati

    Lagu hasil kolaborasi ini membawa pendengar pada perjalanan emosi yang lembut namun penuh makna. Aransemen musiknya dirancang dengan keseimbangan antara instrumen akustik dan sentuhan modern, membuatnya terasa segar namun tetap hangat. Sisca memulai dengan vokalnya yang mengalun ringan, kemudian Aziz masuk dengan nada rendah penuh resonansi, menciptakan perpaduan harmoni yang memikat.

    Lirik lagu ini bercerita tentang hubungan yang sarat akan rasa sayang, pengertian, dan kehangatan. Tidak ada dramatisasi berlebihan, namun justru kesederhanaannya membuat pesan yang disampaikan terasa tulus. Pendengar dapat merasakan bahwa setiap baitnya diucapkan dari hati.

    Chemistry yang Nyata, Bukan Sekadar di Panggung

    Salah satu faktor yang membuat duet ini begitu menarik adalah chemistry yang terlihat alami. Saat tampil bersama, Sisca dan Aziz tidak hanya menyanyi berdampingan, tetapi juga saling menatap dan merespons satu sama lain, seolah membangun dialog musikal di depan penonton. Hal ini membuktikan bahwa kolaborasi mereka tidak berhenti pada proses rekaman, tetapi juga hidup di setiap penampilan panggung.

    Chemistry yang kuat ini mungkin dipengaruhi oleh keterbukaan mereka dalam berbagi cerita pribadi selama proses kreatif. Dalam beberapa wawancara, keduanya mengungkapkan bahwa mereka sering bertukar ide, saling memberi masukan, dan mendiskusikan setiap detail aransemen. Sikap saling menghargai inilah yang membuat hasil akhir terasa matang dan penuh harmoni.

    Tanggapan Hangat dari Pendengar

    Sejak perilisannya, lagu ini mendapatkan respon positif dari para pendengar. Banyak yang mengaku terhanyut oleh perpaduan vokal Sisca dan Aziz. Di media sosial, tagar terkait lagu ini sempat ramai digunakan oleh para penggemar yang membagikan potongan lirik favorit mereka. Tidak sedikit pula yang membuat cover version, sebagai bentuk apresiasi terhadap karya tersebut.

    Bahkan, beberapa kritikus musik memuji kualitas produksi lagu ini yang terdengar rapi dan detail. Mereka menyoroti bagaimana kedua vokal saling melengkapi tanpa saling mendominasi sesuatu yang tidak selalu mudah dicapai dalam sebuah duet.

    Lebih dari Sekadar Kolaborasi

    Yang membuat kolaborasi ini terasa istimewa adalah bagaimana keduanya memandang proyek ini. Bagi Sisca dan Aziz, lagu ini bukan hanya soal memadukan suara, tetapi juga menyampaikan pesan universal tentang kehangatan hubungan antar manusia. Mereka ingin karya ini menjadi pengingat bahwa musik bisa menjadi bahasa cinta yang mampu menyentuh hati, bahkan tanpa harus melalui banyak kata.

    Sisca menegaskan bahwa ia merasa seperti menemukan “teman musik” dalam diri Aziz seseorang yang memahami visi dan perasaannya terhadap lagu. Sementara Aziz mengaku bahwa bekerja sama dengan Sisca memberinya pengalaman baru dalam mengekspresikan sisi lembut dari karakternya.

    Potensi untuk Proyek Selanjutnya

    Melihat keberhasilan duet ini, tidak menutup kemungkinan bahwa Sisca dan Aziz akan kembali bekerja sama di masa depan. Beberapa penggemar bahkan sudah berharap akan ada mini album atau konser kolaborasi yang dapat menghadirkan lebih banyak momen magis seperti ini. Meskipun belum ada konfirmasi resmi, keduanya mengaku terbuka untuk ide tersebut.

    Kolaborasi ini menjadi contoh bagaimana dua musisi dengan karakter berbeda dapat menciptakan sesuatu yang indah ketika mereka memiliki tujuan yang sama. Harmoni yang tercipta bukan hanya soal nada, tetapi juga tentang saling memahami dan menghargai proses kreatif masing-masing.

    Kesimpulan

    Duet Sisca Saras dan Aziz Hedra telah membuktikan bahwa sebuah kolaborasi dapat melampaui batas teknis musik dan menyentuh sisi emosional pendengar. Dengan chemistry yang tulus, kualitas vokal yang mumpuni, dan pesan hangat yang disampaikan, mereka berhasil menciptakan karya yang bukan hanya manis di telinga, tetapi juga menghangatkan hati. Kolaborasi ini jelas menjadi salah satu momen musik terbaik tahun ini, dan layak dikenang sebagai bukti bahwa harmoni sejati lahir dari ketulusan.

  • Bilang Saja dan Agnez Mo Antara Suara, Hak Cipta, dan Panggung Hukum

    Ketika Lagu Melekat pada Sosok

    SUARAJIWAMUSIC. Di dunia musik, ada fenomena unik ketika sebuah lagu seolah menjadi “identitas” bagi penyanyinya. Meski penciptanya jelas dan terdokumentasi, publik sering kali menganggap lagu tersebut sebagai milik penyanyi yang membawakannya dengan penuh penghayatan. Salah satu contoh yang belakangan menjadi sorotan adalah “Bilang Saja”, karya musisi Ari Bias, yang begitu erat dihubungkan dengan diva internasional Indonesia, Agnez Mo.

    Sejak pertama kali dibawakan, “Bilang Saja” kerap identik dengan karakter vokal Agnez Mo yang khas. Penampilannya di atas panggung, interpretasi emosionalnya, dan teknik vokalnya membuat lagu ini sulit dipisahkan dari namanya. Namun, di balik popularitas itu, muncul persoalan serius terkait izin dan hak cipta.

    Latar Belakang Persoalan

    Meski lagu tersebut adalah ciptaan Ari Bias, Agnez Mo telah membawakannya dalam sejumlah konser dan penampilan. Permasalahan muncul ketika pihak pencipta mengklaim bahwa ada tiga kali penampilan “Bilang Saja” di konser Agnez yang dilakukan tanpa izin resmi.

    Dalam ranah hukum hak cipta, penggunaan karya cipta, baik dalam rekaman maupun pertunjukan, umumnya memerlukan izin dari pemegang hak cipta atau perwakilannya. Izin ini bisa diberikan langsung oleh pencipta atau melalui lembaga yang mengelola royalti seperti LMKN (Lembaga Manajemen Kolektif Nasional).

    Pihak Ari Bias melalui kuasa hukumnya menilai, tidak adanya perjanjian atau pembayaran royalti untuk penampilan tersebut merupakan bentuk pelanggaran hak cipta. Kasus pun dibawa ke Pengadilan Niaga Jakarta Pusat.

    Putusan Pengadilan Tingkat Pertama

    Pengadilan Niaga memutuskan bahwa Agnez Mo dianggap melanggar hak cipta dan wajib membayar ganti rugi sebesar Rp1,5 miliar kepada Ari Bias. Putusan ini sontak menjadi sorotan publik.

    Bagi sebagian orang, kasus ini memunculkan pertanyaan:

    • Apakah penyanyi yang mempopulerkan sebuah lagu otomatis bebas membawakannya di panggung kapan pun?
    • Apakah ketenaran lagu berkat suara sang penyanyi dapat mengurangi peran penciptanya?

    Putusan tersebut juga memicu diskusi di kalangan pelaku industri musik tentang batasan hak cipta dan hak terkait, serta perlunya aturan yang lebih jelas bagi artis, promotor, dan pencipta lagu.

    Kasasi dan Titik Balik

    Tidak menerima putusan awal, tim hukum Agnez Mo mengajukan kasasi ke Mahkamah Agung (MA). Langkah ini menjadi titik balik besar dalam kasus tersebut. Pada 11 Agustus 2025, MA resmi mengabulkan kasasi Agnez Mo, membatalkan kewajiban pembayaran ganti rugi Rp1,5 miliar.

    Putusan MA menegaskan bahwa status Agnez Mo sebagai penyanyi original “Bilang Saja” tetap sah, dan haknya untuk membawakan lagu tersebut tidak melanggar hukum selama tidak ada pembatasan yang disepakati sebelumnya. Meski demikian, hak cipta lagu tetap berada di tangan Ari Bias sebagai pencipta.

    Respon dari DPR dan Pelaku Industri

    Komisi III DPR RI menyambut positif putusan ini. Menurut mereka, keputusan MA sejalan dengan prinsip-prinsip yang diatur dalam UU Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta, khususnya terkait hak moral dan hak ekonomi pencipta serta pelaku pertunjukan.

    Dari sudut pandang DPR, kasus ini menjadi pembelajaran bahwa industri musik Indonesia membutuhkan keseimbangan antara perlindungan hak pencipta dan kebebasan berekspresi bagi penyanyi. Mereka berharap putusan ini bisa mencegah ketakutan di kalangan musisi yang ingin membawakan karya yang pernah mereka populerkan.

    Pelajaran dari Kasus “Bilang Saja”

    Kasus ini mengajarkan setidaknya tiga hal penting bagi ekosistem musik Indonesia:

    1. Perjelas Perjanjian di Awal
      Baik penyanyi, pencipta lagu, maupun manajemen, perlu membuat perjanjian tertulis yang mengatur hak dan kewajiban masing-masing pihak. Termasuk soal izin penampilan, pembagian royalti, dan batasan penggunaan lagu.
    2. Pahami Hak Cipta dan Hak Terkait
      Hak cipta dimiliki oleh pencipta lagu, sementara hak terkait dimiliki oleh penyanyi, musisi pengiring, dan produser rekaman. Kedua hak ini harus dihormati dan bisa berjalan berdampingan.
    3. Bangun Komunikasi yang Baik
      Banyak sengketa sebenarnya bisa dihindari jika ada komunikasi yang terbuka dan saling menghargai. Konflik yang dibawa ke ranah hukum sering kali menguras waktu, tenaga, dan reputasi.

    Dampak bagi Publik dan Penggemar

    Bagi penggemar, keputusan MA membawa kelegaan. Mereka bisa kembali menikmati penampilan Agnez Mo membawakan “Bilang Saja” tanpa bayang-bayang sengketa hukum. Di sisi lain, kasus ini membuka mata publik bahwa proses di balik sebuah lagu tidak sesederhana tampil di panggung. Ada jalur legal, hak ekonomi, dan kesepakatan yang harus dipenuhi.

    Bagi pencipta lagu, putusan ini menjadi pengingat untuk melindungi karyanya dengan dokumen dan perjanjian yang jelas. Bagi penyanyi, ini menjadi pelajaran agar memahami aturan main sebelum membawakan karya, meskipun lagu itu sudah melekat dengan nama mereka.

    Kesimpulan

    “Bilang Saja” adalah bukti nyata bagaimana sebuah lagu bisa melekat kuat pada seorang penyanyi, sekaligus menjadi pengingat pentingnya memahami hukum hak cipta. Agnez Mo berhasil memenangkan kasasi dan mempertahankan haknya sebagai penyanyi original, namun hak cipta tetap berada di tangan penciptanya, Ari Bias.

    Kasus ini menegaskan bahwa di industri musik, harmoni bukan hanya tercipta dari melodi dan lirik, tetapi juga dari hubungan yang saling menghormati antara pencipta dan penyanyi. Tanpa itu, panggung bisa berubah menjadi ruang sengketa dan musik kehilangan makna sejatinya.

  • Mematikan Musik demi Menghindari Sengketa Royalti Suara yang Hilang dari Ruang Publik

    SUARAJIWAMUSIC. Beberapa waktu terakhir, publik di Indonesia kembali dihebohkan oleh isu royalti musik yang menyeret berbagai pelaku usaha, mulai dari kafe, restoran, pusat perbelanjaan, hingga hotel. Polemik ini mencuat setelah muncul pemberitaan mengenai sebuah restoran besar yang diminta membayar royalti dalam jumlah fantastis, mencapai miliaran rupiah, hanya karena memutar musik di area usahanya.

    Kasus tersebut menjadi pemicu bagi banyak pengusaha untuk mengambil langkah ekstrem: mematikan musik sepenuhnya di tempat usaha mereka. Keputusan ini bukan tanpa alasan. Bagi sebagian pelaku bisnis, membayar royalti bukan masalah, namun tarif yang dianggap terlalu tinggi dan proses yang kurang transparan membuat mereka merasa tidak mendapatkan perlakuan yang adil.

    Latar Belakang Polemik

    Royalti musik pada dasarnya adalah bentuk apresiasi dan perlindungan hak cipta bagi para pencipta lagu dan musisi. Di Indonesia, kewajiban ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2014 tentang Hak Cipta. Melalui Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN), para pemilik hak cipta berhak mendapatkan kompensasi setiap kali karya mereka diputar untuk kepentingan komersial.

    Namun, dalam praktiknya, mekanisme penarikan dan besaran tarif royalti kerap menimbulkan pertanyaan. Beberapa pelaku usaha mengaku tidak pernah mendapatkan rincian jelas mengenai bagaimana tarif dihitung dan ke mana saja dana tersebut disalurkan.

    Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Haryadi B. Sukamdani, menilai bahwa LMKN perlu memperbaiki sistem agar lebih transparan dan adil. Ia mengungkapkan bahwa ada tarif yang terasa janggal, misalnya biaya dihitung per kursi tanpa mempertimbangkan skala usaha atau jenis bisnis. “Kalau keberatan bayar, matikan saja musiknya,” ujarnya lugas.

    Tarif yang Dinilai Tidak Masuk Akal

    Salah satu keluhan utama pelaku usaha adalah model perhitungan tarif royalti yang dianggap merugikan. Misalnya, sebuah kafe kecil dengan 20 kursi bisa saja dikenakan tarif sama seperti restoran besar dengan kapasitas ratusan kursi, meskipun pendapatan dan frekuensi kunjungan jelas berbeda.

    Haryadi menegaskan, pengusaha bukan anti membayar royalti. Mereka paham bahwa musik memiliki nilai dan pencipta lagu pantas mendapat imbalan. Namun, ia menilai tarif seharusnya disesuaikan dengan kapasitas usaha dan tingkat penggunaannya.

    Dalam kasus terbaru, ada restoran besar yang diminta membayar royalti hingga Rp 2 miliar per tahun. Angka tersebut langsung memicu reaksi keras, bahkan dari pelaku usaha yang sebelumnya patuh membayar royalti.

    Efek Domino Ruang Publik Menjadi Sepi

    Bagi banyak orang, musik adalah jiwa dari sebuah tempat. Restoran tanpa alunan musik terasa hambar, hotel tanpa musik di lobi terasa kaku, dan pusat perbelanjaan yang sunyi bisa membuat pengunjung cepat bosan. Namun kini, demi menghindari sengketa hukum atau beban biaya yang terlalu berat, banyak pemilik usaha memilih diam secara harfiah.

    Fenomena ini sudah terlihat di berbagai daerah. Kafe-kafe yang biasanya memutar lagu akustik kini hanya mengandalkan suara percakapan pelanggan. Beberapa mal bahkan terdengar seperti gedung perkantoran kosong karena tak ada musik latar sama sekali.

    Sisi Lain Perlindungan Hak Musisi

    Di sisi lain, para musisi dan pencipta lagu berhak mendapatkan imbalan dari penggunaan karya mereka. Royalti adalah salah satu sumber pendapatan yang membantu mereka terus berkarya. Tanpa sistem yang efektif, hak para musisi bisa terabaikan.

    Masalahnya, ketidakjelasan mekanisme membuat niat baik untuk menghormati hak cipta justru menimbulkan konflik. Banyak pelaku usaha yang akhirnya merasa royalti lebih seperti “beban” daripada bentuk apresiasi.

    Solusi yang Diharapkan

    Untuk mengatasi masalah ini, dibutuhkan langkah konkret yang menguntungkan kedua pihak: pemilik karya dan pelaku usaha.

    • Transparansi Tarif dan Penggunaan Dana
      LMKN perlu mempublikasikan metode perhitungan tarif secara terbuka, termasuk bagaimana dana royalti dibagi kepada para pencipta lagu.
    • Penyesuaian Tarif Berdasarkan Skala Usaha
      Usaha kecil dan menengah sebaiknya mendapatkan tarif yang proporsional, bukan disamakan dengan usaha besar.
    • Penggunaan Teknologi
      Sistem pencatatan digital yang memantau lagu apa saja yang diputar bisa membantu menghitung royalti secara lebih adil.
    • Dialog Rutin
      LMKN, asosiasi pengusaha, dan komunitas musisi perlu duduk bersama secara berkala untuk mencari solusi yang saling menguntungkan.

    Menemukan Titik Tengah

    Polemik royalti musik ini ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, kita ingin seniman mendapatkan haknya. Di sisi lain, pelaku usaha perlu merasa tarif yang dibebankan logis dan transparan. Tanpa titik tengah, yang dirugikan bukan hanya pengusaha atau musisi, tapi juga masyarakat yang kehilangan suasana nyaman di ruang publik.

    Sampai ada perbaikan sistem, keputusan “mematikan musik” tampaknya akan terus diambil. Sebuah pilihan pahit yang membuat ruang-ruang publik kita kehilangan salah satu elemen terpentingnya: suara yang menyatukan orang tanpa kata.

  • Taylor Swift Umumkan Album Baru, Penggemar Ramai-ramai Berburu Easter Egg

    SUARAJIWAMUSIC. Kabar gembira datang untuk para penggemar Taylor Swift di seluruh dunia. Sang megabintang pop tersebut baru saja mengumumkan bahwa ia akan merilis album terbaru, dan seperti yang sudah menjadi tradisinya, kabar ini langsung memicu antusiasme besar di kalangan Swifties sebutan untuk para penggemarnya. Bahkan, hanya dalam hitungan menit setelah pengumuman itu, media sosial dipenuhi spekulasi, teori, dan pencarian easter egg yang diyakini Taylor sisipkan secara sengaja.

    Pengumuman yang Mengejutkan

    Pengumuman album baru ini dilakukan secara elegan namun tetap penuh misteri, khas Taylor Swift. Ia membagikan informasi tersebut melalui media sosial, lengkap dengan visual artistik yang memancing rasa penasaran. Judul album, daftar lagu, dan tanggal rilis disampaikan dengan gaya yang membuat penggemar ingin mencari makna tersembunyi di balik setiap detail.

    Taylor memang dikenal sebagai sosok yang gemar memberikan clues atau petunjuk tersembunyi dalam setiap perilisan proyeknya. Tak jarang, penggemarnya harus memecahkan teka-teki, meneliti potongan lirik, hingga memeriksa warna pakaian yang ia kenakan untuk menemukan rahasia di balik karya terbarunya. Kali ini pun tidak berbeda sejak pengumuman dibuat, komunitas penggemar di X (Twitter), TikTok, dan Instagram langsung bekerja sama untuk membongkar segala kemungkinan makna di balik pengumuman tersebut.

    Fenomena Easter Egg di Dunia Taylor Swift

    Bagi Swifties, easter egg bukan sekadar hal kecil yang seru dibahas. Ini adalah bagian dari “permainan” kreatif antara Taylor dan penggemarnya. Sejak awal kariernya, Taylor telah menjadikan easter egg sebagai ciri khas, mulai dari penomoran tanggal, pemilihan warna tertentu, hingga elemen visual dalam video musiknya.

    Sebagai contoh, di album sebelumnya, banyak penggemar menemukan bahwa beberapa foto promosi menampilkan benda-benda kecil yang ternyata mengacu pada lirik lagu tertentu. Kali ini, penggemar mengaku menemukan berbagai tanda yang diduga terkait album terbaru, mulai dari motif bunga di latar foto, penggunaan font retro, hingga jumlah simbol hati yang muncul dalam unggahan pengumuman.

    Bagi yang bukan penggemar setia, mungkin semua ini terdengar berlebihan. Namun, bagi Swifties, ini adalah pengalaman interaktif yang membuat mereka merasa lebih dekat dengan sang idola.

    Respons Penggemar Dari Antusiasme hingga Teori Rumit

    Tak butuh waktu lama, internet pun dibanjiri teori. Ada yang berspekulasi bahwa album ini akan menjadi lanjutan dari salah satu karya Taylor sebelumnya, ada juga yang menduga album tersebut akan menjadi proyek re-recording dari katalog lamanya. Beberapa bahkan yakin bahwa album ini akan menggabungkan konsep musik dari berbagai era kariernya.

    Salah satu teori paling populer adalah bahwa Taylor secara sengaja menampilkan angka-angka tertentu dalam pengumuman yang merujuk pada tanggal penting dalam hidupnya atau bahkan tanggal rilis lagu-lagu spesial. Teori lainnya mengaitkan warna yang ia kenakan dengan era musik tertentu, seperti Red, 1989, atau Folklore.

    Di TikTok, banyak kreator konten membuat video analisis mendalam tentang kemungkinan daftar lagu. Beberapa di antaranya membandingkan unggahan terbaru Taylor dengan foto-foto lama, mencari pola yang konsisten. Fenomena ini membuktikan bahwa Swifties tidak hanya pendengar pasif, tetapi juga komunitas penggemar yang kreatif dan kolaboratif.

    Strategi Pemasaran yang Cerdas

    Bagi pengamat industri musik, langkah Taylor ini bukan hanya sekadar pengumuman album, melainkan strategi pemasaran yang sangat efektif. Dengan memanfaatkan easter egg, ia berhasil menciptakan rasa penasaran dan membangun keterlibatan emosional penggemar jauh sebelum album resmi dirilis.

    Metode ini membuat setiap penggemar merasa seperti bagian dari proses kreatif. Mereka tak sekadar menunggu, tetapi ikut berpartisipasi aktif dalam “perburuan” petunjuk yang ia sebarkan. Akibatnya, pembicaraan tentang album tersebut menjadi viral, sehingga promosi berjalan secara organik tanpa perlu kampanye besar-besaran.

    Tak heran jika setiap kali Taylor mengumumkan sesuatu, tagar terkait langsung masuk ke daftar trending topic global di berbagai platform media sosial.

    Dampak pada Karier dan Industri Musik

    Taylor Swift memang sudah dikenal sebagai salah satu musisi paling berpengaruh di era modern. Namun, kemampuannya dalam menjaga hubungan dengan penggemar dan menciptakan momen spesial membuatnya selalu relevan. Dengan strategi seperti ini, ia tidak hanya memasarkan musiknya, tetapi juga membangun “pengalaman” yang dinantikan para pendengar.

    Bahkan, beberapa label musik dan artis lain mulai meniru pendekatan easter egg ini, meskipun jarang ada yang bisa mengeksekusinya sebaik Taylor. Perpaduan antara keaslian, konsistensi, dan kecerdasan dalam membangun narasi membuat setiap perilisan musiknya terasa istimewa.

    Menunggu Rilisan Resmi

    Meski teori demi teori terus bermunculan, satu hal yang pasti adalah para penggemar akan menghitung hari hingga album ini dirilis. Bagi sebagian orang, menunggu mungkin terasa membosankan, tetapi bagi Swifties, periode ini adalah bagian dari keseruan mencari tanda-tanda, berdiskusi, dan membayangkan kejutan apa yang akan datang.

    Hingga saat itu tiba, media sosial akan terus dipenuhi dengan spekulasi, dan tentu saja, meme lucu khas komunitas penggemar Taylor. Entah apakah teori mereka benar atau tidak, yang jelas, Taylor sekali lagi berhasil menciptakan gelombang antusiasme yang sulit ditandingi.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai