
SUARAJIWAMUSIC. Michael Jackson, sang Raja Pop, mungkin dikenal dengan tarian bulan dan lagu cinta yang abadi. Namun lewat “They Don’t Care About Us”, ia melemparkan gaung protes yang keras dan tak kenal kompromi. Dirilis pada tahun 1996 dalam album HIStory, lagu ini menyimpan amarah, keresahan, dan jeritan atas ketidakadilan yang masih menggema hingga kini.
Sebuah Lagu, Sebuah Ledakan Emosi
“All I wanna say is that they don’t really care about us.”
Kalimat sederhana, namun menyakitkan. Di balik nada marah dan ritme perkusif yang mendebar, Jackson menantang struktur kekuasaan yang menindas. Ia bicara soal diskriminasi rasial, kekerasan aparat, dan ketidakadilan hukum topik yang jarang disentuh musisi pop di era itu.
Lagu ini tak hanya menyampaikan kritik sosial. Ia juga menjadi cerminan kekecewaan pribadi Jackson terhadap tuduhan dan perlakuan tidak adil yang ia alami secara publik.
Dua Video Musik, Dua Sisi Ketidakadilan
Untuk menyampaikan pesannya secara visual, Michael Jackson membuat dua versi video klip yang sama-sama menggugah:
- Versi Favela Brazil
Disutradarai oleh Spike Lee, video ini mengambil latar di kawasan kumuh Rio de Janeiro dan Salvador, Brazil. Latar tersebut bukan sekadar tempat tapi simbol dari perjuangan rakyat kecil yang suaranya sering terabaikan. Meskipun sempat ditolak oleh pemerintah setempat karena dinilai terlalu politis, video ini justru menjadi representasi nyata dari suara rakyat. - Versi Penjara
Gelap, penuh kemarahan. Jackson tampil dalam jeruji besi, diselingi dengan rekaman dokumenter nyata tentang kekerasan, pelanggaran HAM, dan kerusuhan sipil. Versi ini lebih frontal, menyampaikan bahwa sistem penegakan hukum seringkali bukan tempat mencari keadilan, tetapi sumber luka itu sendiri.
Dituduh Menyinggung, Padahal Sedang Menyorot
Tak lama setelah rilis, lagu ini memicu kontroversi karena penggalan lirik seperti “Jew me, sue me, kick me, kike me.” Sebagian kalangan menilai ini sebagai bentuk antisemitisme. Namun Michael dengan cepat meminta maaf dan menjelaskan bahwa ia sedang mengkritik prasangka, bukan menyebarkannya. Versi lirik pun akhirnya disesuaikan untuk rilis global.
Spike Lee kemudian angkat bicara dan menegaskan bahwa lagu ini justru mengecam diskriminasi—baik terhadap kulit hitam, Yahudi, maupun kelompok marginal lainnya.
Dari Lagu Menjadi Seruan Gerakan
“They Don’t Care About Us” mungkin awalnya tak diterima hangat di Amerika Serikat akibat kontroversinya. Namun lagu ini justru mendapatkan sambutan luar biasa di Eropa dan berbagai belahan dunia lainnya, bahkan menjadi lagu nomor satu di beberapa negara.
Menariknya, lagu ini menemukan hidup barunya ketika gerakan Black Lives Matter meledak di dekade 2010-an. Video lagunya kembali viral, dinyanyikan dalam demonstrasi, dan dipakai sebagai simbol perlawanan atas kekerasan sistemik yang masih berlangsung.
Lebih dari Sekadar Musik
“They Don’t Care About Us” adalah bentuk keberanian. Ia bukan sekadar rangkaian nada dan lirik, melainkan jeritan kolektif mereka yang terpinggirkan. Jackson mengubah panggungnya menjadi mimbar keadilan, dan lagunya menjadi sirene yang tak bisa diabaikan.
Di tengah dunia yang masih berjuang melawan rasisme, penyalahgunaan kekuasaan, dan bias sosial, lagu ini tetap relevan. Ia menjadi pengingat ketika mereka yang berkuasa menutup mata dan telinga, musik bisa menjadi peluru namun bukan untuk melukai, melainkan membangkitkan.








