SUARAJIWAMUSIC. Penyanyi berbakat Hanin Dhiya kini memasuki fase baru dalam perjalanan musiknya. Setelah dikenal lewat suara merdu di genre pop dan ballad, Hanin memutuskan untuk mengeksplorasi ranah musik folk yang sarat nuansa akustik dan cerita.
Langkah ini menjadi titik balik dalam kariernya. Folk, dengan karakter sederhana namun emosional, memberi ruang bagi Hanin untuk mengekspresikan kisah-kisah personal secara lebih intim. “Musik folk memungkinkan aku bercerita dengan jujur, tanpa banyak hiasan,” ungkap Hanin dalam sebuah wawancara.
Eksperimen Suara dan Cerita
Dalam proyek terbarunya, Hanin menggandeng musisi dan produser yang juga memiliki kecintaan pada genre folk. Mereka berkolaborasi menciptakan aransemen yang hangat, berpadu dengan lirik-lirik yang dekat dengan keseharian pendengar.
Nuansa gitar akustik, petikan lembut, hingga harmoni vokal yang manis menjadi ciri khas yang ia tampilkan. Hanin juga mengaku terinspirasi dari para musisi folk dunia, namun tetap mempertahankan sentuhan khasnya sebagai penyanyi Indonesia.
Harapan untuk Pendengar
Hanin berharap karya barunya dapat memberi pengalaman berbeda bagi para penggemarnya. Ia ingin musik folk yang ia suguhkan bukan hanya enak didengar, tetapi juga meninggalkan kesan mendalam lewat cerita yang terkandung di setiap lagu.
“Semoga lagu-lagu ini bisa menemani siapa saja di saat senang maupun sedih,” tutur Hanin.
Menatap Masa Depan
Dengan semangat baru ini, Hanin tak menutup kemungkinan untuk terus bereksperimen di berbagai genre. Namun untuk saat ini, ia ingin fokus mendalami musik folk dan menjadikannya ruang berekspresi yang lebih personal.
SUARAJIWAMUSIC. Bagi penggemar JKT48, sorakan “Encore!” bukan hanya kebiasaan, tapi semacam ritual penutup yang ditunggu-tunggu. Tapi Sabtu malam, 20 Juli 2024, di panggung JKT48 Summer Tour 2024 Samarinda, sesuatu terasa janggal konser berakhir… begitu saja. Tak ada encore. Tak ada lagu kejutan. Penonton hanya disuguhi lampu yang menyala terang, tanda bahwa malam itu benar-benar usai.
Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan tanda tanya, tetapi juga memantik diskusi panas di dunia maya. Bagi banyak orang, ini seperti nonton film tanpa ending. Kosong. Gantung.
Bukan Sekadar Tambahan Lagu
Encore bagi konser JKT48 bukan cuma penampilan bonus. Ia adalah momen pelepasan. Sebuah penutup emosional ketika idola dan penggemar saling memberi salam terakhir lewat lantunan lagu, pelukan suara, dan tepuk tangan.
Maka ketika bagian itu dihilangkan, apalagi tanpa penjelasan langsung di lokasi, sebagian penggemar merasa seolah kehilangan satu bagian penting dari pertunjukan yang selama ini mereka kenal dan cintai.
Reaksi Dunia Maya Harapan yang Tak Terjawab
Tak butuh waktu lama, tagar dan komentar soal konser “tanpa encore” pun mulai membanjiri lini masa. Mulai dari rasa kecewa, bingung, hingga asumsi-asumsi lain bermunculan. Beberapa penggemar yang hadir langsung di venue bahkan mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka.
“Aku nunggu mereka balik lagi, tapi lampunya malah nyala. Rasanya kayak belum pamit,” tulis seorang pengguna X dengan nada getir.
Bukan Konser Tunggal, Tapi Bagian dari Tur
Menanggapi derasnya respons publik, pihak manajemen JKT48 akhirnya merilis pernyataan. Mereka menjelaskan bahwa konser di Samarinda bukanlah konser utama atau pertunjukan tunggal seperti yang biasa diselenggarakan di Jakarta, melainkan bagian dari rangkaian tur musim panas yang bersifat terbatas.
Format pertunjukan pun disesuaikan lebih ringkas dan padat. Maka dari itu, bagian encore ditiadakan demi menyesuaikan alur acara dengan durasi dan skala panggung di tiap kota.
Pelajaran dari Satu Malam
Meskipun penjelasan tersebut masuk akal secara teknis, banyak penggemar berharap ke depan komunikasi semacam ini bisa dilakukan lebih awal misalnya dengan menyisipkan informasi di tiket atau rundown. Karena dalam dunia fandom, kejelasan adalah bentuk penghormatan.
Encore bukan semata-mata urusan lagu tambahan. Ia adalah perasaan. Dan perasaan, seperti halnya kenangan, tak bisa dianggap sepele.
Panggung Telah Padam, Tapi Dialog Masih Hidup
Malam itu di Samarinda, panggung JKT48 memang telah ditinggalkan tanpa encore. Tapi nyatanya, momen tersebut justru menyulut percakapan tentang pentingnya menjaga kedekatan antara artis dan penggemarnya tak hanya lewat lagu, tapi juga lewat kepekaan dan transparansi.
Encore yang absen seolah mengajarkan tak semua konser berakhir dengan tepuk tangan, tapi setiap pertunjukan selalu menyimpan ruang untuk perbaikan. Dan bagi JKT48, yang dikenal dengan slogan “idola yang bisa kamu temui,” suara fans bukanlah bisikan melainkan bagian dari harmoni itu sendiri.
SUARAJIWAMUSIC. Di dunia musik pop, Justin Bieber bukan hanya seorang penyanyi dia adalah fenomena. Setiap kali ia berkedip di media sosial, jutaan pasang mata langsung menyorot. Dan kali ini, satu kata sederhana yang ia unggah di Instagram mendadak jadi magnet atensi global “SWAG.”
Apakah ini sekadar nostalgia masa remajanya yang penuh hoodie dan kacamata hitam, atau pertanda proyek musikal baru yang diam-diam tengah disiapkan? Belum ada kepastian, tapi satu hal yang jelas rasa penasaran publik sudah terbakar habis.
Swag Satu Kata, Seribu Dugaan
Hanya butuh satu unggahan untuk memicu spekulasi massal. Justin, dengan gaya khasnya yang santai tapi misterius, mengunggah kata “swag” disertai caption singkat “Soon.” Tidak ada cover art, tidak ada lagu pengantar. Hanya potongan puzzle yang dilempar ke tengah semesta Beliebers, dan boom—dunia maya pun mulai berspekulasi liar.
Banyak yang menduga bahwa “SWAG” adalah nama album baru yang sedang digarap. Sebagian lainnya mengira itu hanya kode iseng. Tapi mengingat sejarah Bieber yang gemar memberi teaser tersembunyi, kemungkinan pertama rasanya jauh lebih menggoda.
Aroma Comeback Nostalgia dengan Sentuhan Baru?
Jika benar akan merilis album berjudul SWAG, maka besar kemungkinan Bieber akan menghidupkan kembali aura musiknya di era 2010-an di mana kata “swaggy” melekat erat pada imejnya. Namun kita semua tahu: Bieber yang sekarang bukan lagi remaja bersuara lembut yang menyanyikan “One Time”.
Ia adalah musisi dewasa, dengan eksplorasi spiritual, pengalaman hidup mendalam, dan estetika musik yang lebih matang. Maka bisa dibayangkan jika SWAG adalah semacam jembatan antara dua versi dirinya yang dulu dan yang sekarang.
Mungkin kita akan mendengar sentuhan R&B klasik bercampur produksi modern, beat yang catchy namun penuh makna. Sebuah album yang tetap cool, tapi juga conscious.
Minim Bocoran, Maksimal Antusiasme
Sampai saat ini, belum ada keterangan resmi dari pihak label maupun manajemen. Tidak ada tanggal rilis, tak ada tracklist, bahkan belum ada kolaborator yang diumumkan. Tapi justru karena itulah kekosongan ini menjadi ruang spekulasi yang subur.
Beliebers di seluruh dunia mulai menganalisis unggahan Instagram Bieber seperti detektif mulai dari filter warna, outfit yang ia kenakan, sampai playlist Spotify miliknya. Setiap potongan dianggap clue. Setiap emoji jadi teka-teki.
“Swag” dalam Era Baru: Gaya, Sikap, atau Pernyataan Hidup?
Kita tahu “swag” dulunya berarti gaya keren, penuh percaya diri, khas anak muda urban. Tapi apakah Bieber masih memakai istilah itu dengan makna yang sama?
Mungkin tidak. Bisa jadi kali ini, swag bukan hanya soal penampilan luar melainkan cara menjalani hidup dengan jujur, tenang, dan tetap berdiri tegak walau dunia menilai. Bisa jadi, swag versi 2025 adalah spiritualitas yang santai. Ketenangan yang tetap stylish.
Kita Tunggu, Tapi dengan Napas yang Tertahan
Apakah SWAG adalah album, single, atau sekadar nostalgia iseng? Kita belum tahu. Tapi jika melihat gaya komunikasi Justin yang suka memberi kode sebelum ledakan besar, sepertinya sesuatu memang sedang ia persiapkan.
Apapun bentuknya, para penikmat musik dan penggemarnya tentu akan menyambut dengan penuh antusias. Karena satu hal yang tak berubah dari seorang Justin Bieber: setiap langkahnya, selalu penuh kejutan.
SUARAJIWAMUSIC. Grup band Geisha kembali menunjukkan kekuatannya dalam meramu musik yang sarat makna. Melalui single terbaru bertajuk Jika Bukan Karenamu, mereka menghadirkan kisah penuh rasa syukur sekaligus harapan, seolah mengingatkan kita bahwa cinta dapat menjadi alasan terbesar untuk bertahan.
Lirik Menyentuh yang Penuh Makna
Lagu ini mengisahkan seseorang yang hampir kehilangan arah, namun berhasil kembali berdiri karena kehadiran orang tercinta. Lirik seperti “Jika bukan karenamu, nyawaku mungkin telah pergi…”
mencerminkan rasa terima kasih yang tulus kepada sosok yang menjadi penyelamat di masa tergelap. Geisha mencoba menyampaikan bahwa dalam setiap kepedihan, selalu ada secercah cahaya yang mampu menguatkan.
Aransemen Lembut dengan Sentuhan Emosional
Melodi Jika Bukan Karenamu dibangun dengan aransemen yang sederhana namun penuh emosi. Suara merdu Regina, dipadukan dengan permainan gitar Dhan dan Roby serta dentuman bass Nard, menciptakan nuansa yang menyentuh hati. Lagu ini terasa hangat, seperti pelukan musik bagi pendengar yang sedang berjuang melawan rasa sakit.
Pesan Universal tentang Cinta dan Harapan
Geisha menggambarkan lagu ini sebagai bentuk penghormatan kepada mereka yang pernah berada di ambang keputusasaan. Jika Bukan Karenamu adalah pengingat bahwa cinta, dalam berbagai bentuknya, dapat menjadi kekuatan terbesar untuk bertahan hidup. Lagu ini tidak hanya relevan bagi mereka yang sedang jatuh cinta, tetapi juga bagi siapa pun yang membutuhkan dorongan semangat.
Bukti Eksistensi Geisha yang Tak Pernah Pudar
Dirilis pada 23 Juli 2025, lagu ini sudah tersedia di berbagai platform musik digital, termasuk YouTube. Karya ini menegaskan bahwa Geisha tetap konsisten dalam menghadirkan musik yang bukan hanya enak didengar, tetapi juga menyentuh hati.
Kesimpulan
Dengan Jika Bukan Karenamu, Geisha kembali membuktikan bahwa mereka bukan sekadar band pop biasa. Lagu ini hadir sebagai teman setia bagi pendengar yang membutuhkan kekuatan dan harapan. Melalui lirik dan musiknya, Geisha berhasil menghadirkan rasa hangat dan energi positif yang menyentuh jiwa.
SUARAJIWAMUSIC. Juicy Luicy kembali mencuri perhatian. Bukan hanya lewat lagu-lagu bertema patah hati, tapi karena mereka berhasil menyuarakan keresahan paling dalam dari banyak perempuan muda Gen Z tentang cinta, kehilangan, dan ketidakpastian yang datang bersamanya.
Grup musik asal Indonesia ini belakangan semakin melekat dengan istilah “soundtrack galau sejuta umat”. Lewat lirik yang jujur dan melodi yang menyentuh, mereka seakan menjadi teman curhat bagi anak muda yang tengah melalui badai perasaan.
Kegalauan yang Menyatukan
Salah satu penampilan mereka yang paling berkesan terjadi saat acara perayaan ulang tahun DKI Jakarta. Ribuan penonton yang hadir tidak hanya menonton, tapi ikut larut dalam nyanyian kolektif penuh emosi. Bagi banyak perempuan Gen Z, ini bukan sekadar konser tapi semacam terapi bersama, tempat di mana air mata tak lagi tabu dan galau bukan lagi sesuatu yang harus disembunyikan.
Mengapa Musik Sedih Begitu Menyentuh?
Fenomena ini sejatinya tak lepas dari cara Gen Z memaknai perasaan. Di tengah budaya yang serba cepat dan penuh tekanan, musik galau menawarkan pelarian dan ruang aman. Menurut berbagai kajian psikologis, lagu bernuansa sedih bisa memicu pelepasan hormon prolaktin yang memberi efek menenangkan. Alih-alih membuat semakin terpuruk, musik seperti ini justru bisa menjadi medium pemulihan emosional.
Lagu Galau, Bukan Sekadar Tren
Juicy Luicy tak hanya merilis lagu mereka menghadirkan pengalaman emosional yang bisa dirasakan bersama. Lagu-lagu mereka seperti “Tanggung Jawab” atau “Lantas” menjadi semacam memoar kolektif: mengingatkan kita pada mantan, cinta yang tak terbalas, atau rasa rindu yang belum sempat dituntaskan.
Bagi banyak perempuan muda, ini adalah bentuk validasi bahwa kegalauan mereka bukan lelucon. Bahwa rasa sedih, bingung, bahkan marah pun layak dirayakan.
Musik Sebagai Medium Pemulihan
Juicy Luicy menunjukkan bahwa musik bisa menjadi teman seperjalanan dalam proses healing. Tidak menghakimi, tidak menyuruh segera move on, tapi cukup ada dan menemani. Ini yang membuat mereka terasa begitu dekat dan relevan di hati pendengarnya.
Galau Bukan Aib, Tapi Bagian dari Perjalanan
Lewat Juicy Luicy, generasi muda khususnya perempuan Gen Z belajar bahwa menangis bukan tanda kelemahan. Bahwa merasakan kehilangan bukan hal memalukan. Justru dari rasa itulah tumbuh kedewasaan emosional.
Dan mungkin, di balik semua air mata dan kenangan yang belum usai, lagu-lagu mereka adalah pelukan yang tak sempat diberikan. Dalam dunia yang kerap mengharuskan kita untuk “kuat setiap saat”, Juicy Luicy justru datang menawarkan sebaliknya yakni ruang untuk merasa.
SUARAJIWAMUSIC. Sabtu malam di Sky Avenue 2025 terasa istimewa. Udara berembus sejuk, namun suasana justru membara. Ribuan pasang mata menatap panggung dengan harap, dan tak lama kemudian sorakan bergema begitu Sheila On 7 muncul membelah gelap malam. Sebuah momen yang seketika mengubah tempat itu menjadi lautan nostalgia, emosi, dan semangat yang membuncah.
Band yang sudah puluhan tahun menjadi pengisi ruang hati para pencinta musik Tanah Air ini membuktikan bahwa pesonanya tak pernah pudar. Bahkan, di usia musik yang terus berubah dan berganti tren, Sheila On 7 tetap menjadi rumah bagi banyak kenangan.
Membuka Panggung dengan Dentuman Memori
Penampilan dibuka dengan lagu-lagu ikonik yang membuat penonton ikut bernyanyi sejak nada pertama dimainkan. Iringan gitar, suara khas Duta, dan energi dari seluruh personel mengajak hadirin larut dalam alunan lirik yang membekas di memori seolah mereka tak sekadar menonton konser, tapi kembali ke masa-masa di mana lagu-lagu itu pertama kali mereka dengar.
Tak butuh banyak waktu untuk menciptakan keakraban. Lagu demi lagu mengalir tanpa jeda panjang, dan ribuan suara penonton turut berpadu. Di tengah arus musik digital dan tren TikTok, Sheila On 7 membuktikan bahwa kualitas karya tetap berbicara paling lantang.
Kolaborasi Tak Terduga, Emosi yang Meledak
Yang paling mengejutkan malam itu adalah ketika Sheila On 7 menghadirkan kolaborasi panggung penuh kejutan. Tamu-tamu istimewa dari berbagai genre muncul satu per satu, memberi sentuhan segar pada lagu-lagu klasik Sheila On 7. Harmoni baru itu tidak hanya mengejutkan, tapi juga menyentuh menyatukan dua generasi dalam satu irama.
Kolaborasi ini bukan sekadar aksi panggung biasa, melainkan pertemuan lintas era yang membuktikan daya lentur musik mereka. Sheila On 7 tidak hanya menghidupkan masa lalu, tapi juga merangkul masa kini dengan tangan terbuka.
Ribuan Penonton, Satu Suara
Tiket konser yang habis sejak jauh-jauh hari menjadi isyarat bahwa antusiasme terhadap band asal Yogyakarta ini tidak main-main. Sky Avenue malam itu penuh sesak oleh para penggemar yang datang dari berbagai daerah. Usia tak lagi jadi batas dari remaja hingga generasi yang tumbuh bersama lagu-lagu mereka, semua hadir dengan semangat yang sama. Satu hal yang paling terasa Sheila On 7 bukan sekadar band, tapi juga penghubung emosional antara banyak kisah hidup.
Sheila On 7 Menolak Usang, Menjaga Jiwa
Mereka tidak sekadar tampil. Sheila On 7 seperti membuka lembaran demi lembaran buku harian milik jutaan orang yang pernah jatuh cinta, patah hati, merindu, dan bangkit semuanya diiringi lagu-lagu mereka. Namun alih-alih terjebak di zona nyaman nostalgia, band ini tampil dengan kemasan baru yang tetap setia pada jati dirinya. Itulah yang membuat Sheila On 7 tetap relevan: mereka tahu kapan harus berubah, dan kapan harus tetap seperti dulu.
Sebuah Malam, Sebuah Kenangan
Sky Avenue 2025 tak hanya mencatat nama Sheila On 7 sebagai penampil. Ia mencatat mereka sebagai pengukir momen. Di tengah gemerlap lampu dan dentuman sound system, ada kenangan yang diam-diam tertinggal dalam hati penonton: bahwa dalam dunia yang terus bergerak cepat, selalu ada tempat untuk kembali dan Sheila On 7 adalah salah satunya.
SUARAJIWAMUSIC. Setelah dikenal luas sebagai vokalis band rock Andra and The Backbone, Deddy Lisan kini mengejutkan penggemarnya dengan sebuah transformasi musikal yang tak biasa. Pada 17 Juli 2025, ia resmi merilis single solo perdananya yang bertajuk “Kamu Takdirku” sebuah langkah yang bukan hanya memperkenalkan wajah baru dirinya dalam industri musik, tapi juga memperlihatkan keberanian mengeksplorasi warna suara yang berbeda.
Jika selama ini publik mengenalnya lewat vokal serak yang berpadu dengan gitar distorsi, kini Deddy hadir lebih ringan, lebih lembut, namun tetap menyentuh. Lagu ini dikemas dalam balutan synth-pop yang modern dan mudah dicerna jauh dari nuansa rock yang selama ini lekat dengan dirinya.
“Saya ingin keluar dari zona nyaman, dan ini adalah bentuk lain dari ekspresi diri saya,” ujar Deddy dalam rilis resminya.
Kolaborasi Musikal di Balik Layar
Tidak sendirian, Deddy menggandeng nama-nama yang tak asing di dunia musik Indonesia. Sandy Canester dan Wawan Taroek berperan sebagai penulis lagu, sementara proses produksi ditangani oleh Wawan bersama Omar Syarif. Kolaborasi ini menjadi fondasi utama yang membentuk karakter unik dari “Kamu Takdirku”.
Beat yang segar dan melodi yang ‘menempel’ di telinga seolah menjadi bukti bahwa proyek ini memang dirancang untuk bisa diterima lebih luas, termasuk oleh generasi muda yang tumbuh di era digital.
Di balik rilis ini, Jwara Creative juga hadir sebagai mitra kreatif yang mendukung penuh distribusi dan promosi lagu, menjadikan peluncuran ini terasa lebih matang dan terarah.
Lagu Cinta dengan Sentuhan Takdir
Dibalik ketukan synth yang ringan, terselip lirik yang menyuarakan tema universal tentang takdir, pertemuan, dan cinta yang sudah digariskan. Meski sederhana, kekuatan lagu ini terletak pada ketulusan penyampaiannya sebuah kekuatan yang sudah menjadi ciri khas Deddy Lisan sejak dulu.
“Ini bukan sekadar lagu cinta biasa. Ini tentang seseorang yang akhirnya menyadari bahwa orang yang bersamanya adalah bagian dari takdir yang tak bisa dielakkan,” ungkapnya dalam wawancara singkat.
Bisa Didengar di Semua Platform
“Kamu Takdirku” kini telah tersedia di seluruh layanan streaming musik digital. Deddy juga mengonfirmasi bahwa video lirik dari lagu ini akan dirilis dalam waktu dekat melalui kanal YouTube resminya.
Dengan semangat baru ini, tampaknya perjalanan Deddy Lisan di ranah solo tak hanya menjadi pelengkap dari karier band-nya, tapi juga sebagai panggung baru yang akan membuka berbagai kemungkinan musikal ke depannya.
SUARAJIWAMUSIC. Dalam setiap film yang menyentuh hati, selalu ada satu lagu yang diam-diam merangkum semua rasa. Di film “Sore: Istri dari Masa Depan”, lagu itu adalah “Gaze” sebuah balada lembut karya Adhitia Sofyan yang tak hanya jadi pengiring, tapi juga nyawa dari emosi yang disampaikan layar.
Dirilis pertama kali tahun 2010 dalam album Forget Your Plans, “Gaze” seolah menjadi surat cinta yang tak pernah terkirim. Lalu, tujuh tahun kemudian, lagu ini dipilih sebagai bagian dari web series “Sore: Istri dari Masa Depan”. Kini, di tahun 2025, lagu yang sama kembali mengudara dalam versi filmnya membuktikan bahwa sebuah lagu yang tulus tak pernah lekang oleh waktu.
Tentang Cinta yang Tak Selesai, Tapi Tetap Indah
“Gaze” bukan sekadar lagu patah hati. Ia adalah potret keheningan di antara dua orang yang pernah saling mencinta, tapi tak bisa saling memiliki. Liriknya berbicara tentang sebuah pertunjukan yang harus selesai, sebuah bab yang ditutup meski hati masih ingin membaca ulang.
“The lights are out, the stage is bare…”
Suasana teater menjadi metafora utama. Lampu padam, tirai tertutup, penonton beranjak pergi—namun seseorang masih duduk di sana, menatap kosong ke panggung yang baru saja menyimpan kenangan. Lagu ini tidak meledak dengan emosi, tapi menyusup perlahan ke hati dengan nada-nada sunyi yang justru membuatnya terasa lebih nyata.
Soundtrack dengan Rasa Waktu
Film “Sore: Istri dari Masa Depan” sendiri merupakan cerita cinta lintas waktu. Maka tak heran jika “Gaze” yang pernah menjadi tema utama di versi webseries-nya, kembali dipilih untuk menyuarakan getaran emosi yang sama di versi layar lebarnya.
Rilis film ini pada 10 Juli 2025 bukan hanya menjadi momen nostalgia bagi mereka yang mengikuti web series-nya di masa lalu, tapi juga menjadi pintu masuk bagi penonton baru untuk ikut hanyut dalam kisah cinta penuh teka-teki ini.
Adhitia Sofyan Suara Hati yang Diam-diam Menyembuhkan
Suara khas Adhitia Sofyan tak pernah berteriak. Ia hanya berbisik, cukup dekat untuk terdengar jelas, namun cukup jauh untuk membuat kita merasa sedang berbicara dengan hati sendiri. Gaya akustiknya yang tenang membuat lirik “Gaze” terasa seperti percakapan pribadi, seperti seseorang membacakan isi diary-nya sendiri dengan kejujuran yang polos dan dalam.
Kutipan Lirik yang Menyentuh
“And I gaze at you from afar,
Where you can’t see, where I still stay…”
Lirik ini menangkap perasaan yang mungkin pernah kita rasakan: mencintai diam-diam dari kejauhan, memilih untuk tetap tinggal meski orang yang kita sayangi telah pergi.
Fakta Singkat Lagu “Gaze”
Judul Lagu: Gaze
Penyanyi: Adhitia Sofyan
Album: Forget Your Plans (2010)
Soundtrack Film: Sore Istri dari Masa Depan (2025)
Genre: Akustik, folk-pop dengan sentuhan ambient
Tema: Perpisahan, kerinduan, cinta tak sampai
Lagu yang Tak Usai Meski Cerita Telah Tamat
“Gaze” adalah lagu tentang menatap seseorang yang sudah tak bisa kita miliki, tapi masih kita simpan di tempat paling lembut dalam hati. Ia tidak berisik, tidak penuh drama, tapi justru karena itulah ia menyentuh. Seperti matahari sore yang tidak meledak terang, tapi perlahan tenggelam dengan keindahan yang mengendap.
Adhitia Sofyan mengajarkan kita lewat “Gaze” bahwa cinta tidak harus selalu disuarakan keras-keras. Kadang, cukup ditatap, dari kejauhan.
SUARAJIWAMUSIC. Di tengah lalu lalang lagu viral yang kerap datang dan pergi, ada satu judul yang terus menancap kuat di hati pendengar Indonesia “Nina”. Lagu milik grup musik alternatif. Feast ini kembali merebut posisi teratas di Top 50 Spotify Indonesia, membuktikan bahwa musik dengan jiwa tak akan pernah tenggelam oleh tren sesaat.
Kembalinya “Nina” ke puncak tangga lagu bukan hanya soal angka streaming, tapi juga soal resonansi emosional yang tak lekang oleh waktu.
Kisah di Balik “Nina” Surat Cinta Seorang Ayah
“Nina” bukan lagu biasa. Ditulis oleh Adnan Satyanugraha, lagu ini lahir dari sudut pandang seorang ayah yang menuliskan isi hatinya untuk sang anak perempuan. Tiap bait terasa personal, hangat, dan menyayat menyampaikan harapan, ketakutan, sekaligus cinta yang tak bersyarat.
Dalam aransemen yang tenang dan lembut, Feast yang biasanya dikenal dengan musik keras dan penuh kritik sosial membuka sisi yang lebih lirih dan reflektif. Bekerja sama dengan musisi asal Surabaya, Vega Antares, mereka berhasil menciptakan nuansa baru yang tetap terasa khas, namun menyentuh di tempat berbeda.
Dari Rilisan Hingga Rekor
Dirilis pada 5 Juli 2024, “Nina” merupakan bagian dari album ketiga .Feast yang berjudul “Membangun & Menghancurkan”. Meski baru, lagu ini sudah menyentuh pencapaian yang luar biasa:
Total streaming menembus 153 juta kali di Spotify.
Sempat menembus posisi #1 di Daily Top Songs Indonesia.
Kembali menggeser lagu-lagu viral lain seperti “Garam & Madu (Sakit Dadaku)” dan “Aku Dah Lupa”.
Tidak hanya itu, albumnyapun sukses besar menduduki Top 3 Album Mingguan Spotify Indonesia, sementara .Feast sendiri duduk manis di peringkat ke-8 artis terpopuler mingguan.
Kemenangan Musik yang Tulus
Keberhasilan “Nina” bukan semata karena promosi besar-besaran atau tren TikTok. Ia hadir dengan sederhana, membawa lirik dan melodi yang tulus. Lagu ini menyentuh karena bisa jadi cermin bagi siapapun baik ayah, anak, atau mereka yang pernah ditinggal namun masih menggenggam kenangan.
Di era di mana musik cepat viral namun cepat pula dilupakan, “Nina” membuktikan bahwa lagu yang jujur selalu punya tempat abadi di hati pendengar.
.Feast dan Hindia Duet Dominasi Tangga Lagu
Menariknya, kesuksesan “Nina” beriringan dengan dominasi proyek solo dari Baskara Putra, yaitu Hindia. Sejak Maret 2025, Hindia konsisten berada di puncak daftar artis harian dan mingguan Spotify Indonesia. Kini, Baskara dan .Feast kembali berdampingan, mencatat rekor bersama lewat lagu-lagu yang menggugah.
Keduanya menunjukkan bahwa musik lokal tak hanya mampu bersaing secara kualitas, tapi juga memimpin selera pendengar digital.
Ketika Lagu Menjadi Pelukan
“Nina” bukan hanya lagu, namun ia adalah pelukan dari jarak jauh. Ia bicara tanpa berteriak, menyentuh tanpa menyentuh. Kembalinya lagu ini ke puncak bukan semata soal statistik, melainkan bukti bahwa musik yang membawa perasaan akan terus didengarkan, bahkan saat dunia berganti tren.
Jika kamu belum pernah mendengarkannya mungkin sekarang saatnya. Dengarkan dalam keheningan, dan biarkan kata-katanya berbicara langsung kedalam hatimu.
SUARAJIWAMUSIC. Para penggemar G-Dragon di Thailand harus menelan pil pahit. Harapan untuk menyaksikan aksi panggung sang legenda K-pop pupus sudah setelah konser yang dijadwalkan digelar di Bangkok secara resmi dibatalkan. Pengumuman ini datang secara mendadak, dan seketika menyulut reaksi kecewa dari para penggemar yang sudah bersiap menyambut sang idola.
Tanpa Penjelasan Rinci, Fan Dibuat Bertanya-Tanya
Konser solo ini sejatinya menjadi momen yang sangat dinanti-nanti, terutama karena menandai kembalinya G-Dragon ke panggung besar setelah vakum cukup lama. Namun, hanya beberapa saat sebelum acara, pihak promotor dan agensi mengumumkan bahwa konser di Bangkok batal digelar. Sayangnya, tidak ada keterangan detail terkait alasan pembatalan, selain pernyataan singkat soal “kendala internal yang tak bisa dihindari.”
Ketiadaan informasi yang jelas membuat banyak penggemar bertanya-tanya. Sebagian bahkan merasa kecewa bukan hanya karena batal menonton, tapi juga karena kurangnya transparansi dari pihak penyelenggara.
Kerugian Emosional dan Finansial, Penggemar Tuntut Kepastian
Tak sedikit penggemar yang telah menyiapkan perjalanan jauh-jauh hari mulai dari memesan tiket konser, akomodasi, hingga penerbangan. Bagi mereka, pembatalan ini tak hanya menyisakan kekecewaan emosional, tetapi juga kerugian materiil.
Media sosial pun dipenuhi curahan hati para penggemar yang menuntut klarifikasi resmi dan bentuk tanggung jawab dari pihak penyelenggara, terutama terkait proses pengembalian dana dan kejelasan nasib jadwal ulang (jika ada).
Apakah Akan Ada Jadwal Pengganti?
Hingga kini, belum ada informasi lebih lanjut mengenai apakah konser di Bangkok akan dijadwal ulang di kemudian hari, atau benar-benar dihapus dari rangkaian tur. Para fan masih menanti dengan penuh harap agar ada pernyataan terbuka dari manajemen, serta kompensasi yang adil atas waktu, biaya, dan harapan yang telah mereka tanamkan.
Antara Ekspektasi dan Realita Saat Komunikasi Menjadi Segalanya
Dalam industri hiburan, pembatalan konser memang bisa terjadi. Namun yang menjadi sorotan bukan hanya acaranya, melainkan bagaimana pihak terkait berkomunikasi dengan publik. Terlebih bagi artis sekelas G-Dragon, yang punya basis penggemar besar dan sangat loyal, kepercayaan adalah sesuatu yang tak boleh diabaikan begitu saja.
Kini para penggemar hanya bisa berharap: semoga di balik sunyi pernyataan resmi, ada kabar baik yang sedang disiapkan.