
SUARAJIWAMUSIC. Nama Bernadya mungkin selama ini lekat dengan nuansa musik yang melankolis, lirik-lirik penuh perenungan, dan visual serba gelap. Namun, penyanyi muda berbakat ini tampaknya siap melangkah ke babak baru dalam kariernya. Di tengah hiruk-pikuk dunia seni dan musik Indonesia, Bernadya mengumumkan akan hadir dengan citra yang segar dan berbeda dalam album barunya yang tengah digarap.
Langkah ini bukan sekadar rebranding visual, melainkan bentuk evolusi diri baik sebagai seniman maupun sebagai pribadi yang terus tumbuh bersama karyanya.
Dari Hitam ke Spektrum Baru
Dalam sebuah kesempatan wawancara yang berlangsung di Jakarta International Contemporary Art Fair (JICAF) 2025, Bernadya tampil dengan aura berbeda dari biasanya. Tak lagi tampil dengan dominasi warna hitam atau gaya yang cenderung sendu, kali ini ia memancarkan semangat untuk membebaskan diri dari label “sang penyanyi lagu-lagu sedih”.
“Gak hitam-hitam lagi deh, kayaknya udah cukup ya,” ujarnya santai, namun penuh makna.
Bukan tanpa alasan, transformasi ini didasari oleh proses refleksi dan pencarian jati diri sebagai musisi. Bernadya mengakui bahwa preferensinya terhadap tema dan warna dalam musik kini mulai berubah. Ia merasa sudah waktunya menampilkan sisi lain yang selama ini tersembunyi lebih ringan, lebih ekspresif, dan tentu saja lebih personal.
Mengabadikan Citra Lama Lewat Karya Seni
Meski ingin melangkah maju, Bernadya tetap menghargai fase-fase sebelumnya dalam kariernya. Ia justru menjadikan identitas visual “lama” sebagai bagian dari arsip seni yang layak dirayakan. Lewat kolaborasi dengan dua seniman visual muda, Wickana dan Lulla Bear, terciptalah proyek seni menarik yang mengabadikan imej Bernadya versi album pertama.
Hasil kolaborasi ini tidak hanya sebatas visual, tapi dihidupkan dalam berbagai bentuk karya seperti art print, kaus edisi khusus, dan bahkan art toys dengan karakter yang mewakili persona awal Bernadya. Proyek ini sekaligus menjadi penanda perpisahan dari karakter visual lamanya, sebelum ia benar-benar melangkah ke identitas baru di album mendatang.
Menurut salah satu kurator di JICAF, ide ini adalah bentuk penghormatan terhadap jejak kreatif Bernadya. “Kita ingin menciptakan kenang-kenangan dari perjalanan musikal awalnya, sebelum dia masuk ke fase baru yang lebih eksploratif,” ujar mereka.
Bernadya, Dari Ajang Pencarian Bakat ke Panggung Musik Nasional
Nama lengkapnya adalah Bernadya Ribka Jayakusuma, dan ia pertama kali dikenal publik lewat ajang The Voice Kids Indonesia pada tahun 2016. Di sana, ia menjadi salah satu anggota dari tim Tulus sosok yang kini juga menjadi panutan di industri musik Tanah Air.
Meski tidak langsung meroket, Bernadya tetap konsisten merintis karier. Ia merilis karya demi karya, membangun karakter suara dan musikalitas yang kuat. Di tahun 2022, ia resmi bergabung dengan Juni Records, label musik yang juga menaungi nama-nama besar seperti Tulus dan Hindia. Sejak saat itu, nama Bernadya mulai semakin dikenal, terutama lewat lagu-lagu seperti “Apa Mungkin”, yang sempat membawanya masuk nominasi Pendatang Baru Terbaik di ajang Anugerah Musik Indonesia (AMI) 2023.
Membuka Lembaran Baru, Seperti Apa Album Selanjutnya?
Meski belum memberikan bocoran detail soal judul atau tanggal rilis album baru, Bernadya memastikan bahwa proyek ini akan membawa perubahan besar tidak hanya dari sisi musikal, tapi juga dari konsep dan visual.
“Aku makin menyadari bahwa sekarang udah gak melulu ingin menyanyikan lagu sedih. Musikku pelan-pelan berevolusi, begitu juga aku sebagai pribadi,” jelasnya.
Pernyataan ini membuka ruang ekspektasi bahwa album mendatang akan menampilkan lebih banyak warna, baik dalam arti harfiah maupun emosional. Bisa jadi, kita akan mendengar Bernadya dalam versi yang lebih optimis, lebih eksperimental, atau mungkin lebih raw dan jujur tanpa terbebani label “penyanyi mellow”.
Tantangan & Ekspektasi Ketika Berani Berubah
Setiap perubahan pasti datang dengan risiko. Bernadya tentu menyadari bahwa langkah ini bisa saja memicu reaksi beragam dari para pendengarnya. Penggemar yang sudah nyaman dengan citra sebelumnya mungkin akan kaget, atau bahkan mempertanyakan pilihan tersebut. Namun sebagai seniman, Bernadya justru melihat ini sebagai titik penting dalam pertumbuhan kreatifnya.
“Setiap fase punya ceritanya masing-masing. Aku gak mau terjebak dalam satu image terus-terusan,” katanya.
Dalam dunia yang terus berubah, menjadi seniman berarti terus berani mengekspresikan diri dengan jujur meski harus keluar dari zona nyaman. Dan itulah yang sedang dilakukan Bernadya saat ini.
Kolaborasi Lintas Seni Musik Bertemu Visual
Apa yang dilakukan Bernadya bersama Wickana dan Lulla Bear juga menunjukkan bahwa seni musik kini tak bisa dipisahkan dari medium visual. Representasi visual bukan sekadar pelengkap, tetapi bagian dari narasi besar yang ingin disampaikan. Bernadya tampaknya paham betul akan hal ini, dan justru menggunakannya sebagai sarana memperkuat pesannya.
Dengan menggabungkan karya musik dan seni visual dalam satu proyek lintas medium, Bernadya tidak hanya menawarkan album sebagai produk audio, tapi juga sebagai pengalaman artistik yang utuh.
Menanti Bernadya yang Baru
Langkah Bernadya dalam mengubah citra dan mengeksplorasi sisi baru dalam bermusik adalah hal yang patut diapresiasi. Ia tidak sekadar mengikuti tren, tapi benar-benar menggali potensi kreatifnya dengan berani. Dari penyanyi lagu-lagu sendu, ia kini bersiap menyapa publik dengan energi baru lebih segar, lebih bebas, dan lebih bernuansa.
Apakah album baru ini akan menjadi kejutan besar? Atau justru menjadi titik tolak untuk membawa Bernadya ke panggung yang lebih luas? Yang jelas, satu hal pasti: Bernadya sedang menyiapkan sesuatu yang tidak biasa.