
SUARAJIWAMUSIC. Ketika sebuah lagu menjadi terkenal, kita sering membayangkan bahwa sang pencipta atau penyanyinya pasti merasa bangga. Namun, kenyataannya tidak selalu begitu. Ada sejumlah musisi besar dunia yang justru merasa “tidak nyaman” dengan lagu-lagu hits yang membuat mereka dikenal luas.
Fenomena ini menarik, sebab di balik kesuksesan sebuah karya, ternyata tersimpan perasaan campur aduk, mulai dari kebosanan, rasa terjebak, hingga penyesalan artistik. Berikut adalah tujuh musisi dan band ternama yang secara terbuka pernah menyatakan ketidaksukaan mereka terhadap lagu ciptaan atau lagu populer yang melekat dengan nama mereka.
- Radiohead – Creep
Siapa yang tidak tahu lagu Creep? Lagu ini menjadi pintu gerbang Radiohead menuju popularitas global pada tahun 1990-an. Dengan lirik melankolis dan nuansa gelap, Creep menjadi anthem bagi generasi yang merasa terasing.
Namun, bagi Thom Yorke dan kawan-kawan, popularitas Creep justru menjadi beban. Yorke menyebut lagu itu membuat bandnya terjebak dalam label “lagu satu hits.” Mereka khawatir publik hanya mengenal Radiohead lewat Creep dan mengabaikan karya-karya eksperimental lain yang lebih mencerminkan jati diri mereka.
Meski begitu, para penggemar tetap menantikan Creep di setiap konser. Alhasil, band ini sering kali berada dalam dilema: antara memuaskan penggemar atau menjaga integritas musikal mereka.
- Nirvana – Smells Like Teen Spirit
Lagu ini sering disebut sebagai lagu generasi 90-an. Smells Like Teen Spirit mengantar Nirvana ke puncak kejayaan dan menjadi ikon musik grunge. Namun, Kurt Cobain sang vokalis justru merasa terbebani.
Cobain berulang kali mengaku bosan karena lagu tersebut selalu diminta penggemar dan menjadi bayangan yang terlalu besar bagi karya Nirvana lainnya. Dalam beberapa wawancara, ia bahkan menyebutkan tidak lagi menikmati saat membawakannya.
Kondisi ini memperlihatkan paradoks seorang musisi, lagu yang membawa kesuksesan, justru bisa menjadi sumber tekanan batin.
- Led Zeppelin – Stairway to Heaven
Lagu legendaris ini dianggap sebagai salah satu karya rock terbaik sepanjang masa. Dengan durasi panjang dan progresi musik yang indah, Stairway to Heaven menjadi masterpiece Led Zeppelin.
Namun, Robert Plant, sang vokalis, punya pandangan berbeda. Ia pernah menyatakan menyesal dengan lirik lagu tersebut. Bahkan dalam sebuah siaran radio, Plant pernah menyumbang dana agar Stairway to Heaven tidak diputar lagi.
Meskipun penggemar menilai lagu ini sebagai karya monumental, bagi Plant, ada sisi jenuh dan penyesalan yang membuatnya sulit menikmati Stairway to Heaven sebagaimana publik menikmatinya.
- Madonna – Like a Virgin
Sebagai ratu pop dunia, Madonna memiliki banyak lagu hits, dan Like a Virgin adalah salah satunya. Lagu ini sempat mendefinisikan kariernya di awal 1980-an.
Namun, seiring perjalanan kariernya, Madonna merasa lagu ini terlalu membatasi. Ia enggan terus-menerus diidentikkan dengan Like a Virgin karena citra yang ditampilkan tidak lagi sesuai dengan perkembangan musikalitas dan pribadinya.
Tak jarang, Madonna memilih untuk tidak membawakan lagu ini dalam konser. Bagi sebagian artis besar, menjaga citra dan identitas musik lebih penting daripada sekadar memutar ulang kesuksesan lama.
- Beastie Boys – (You Gotta) Fight for Your Right (to Party!)
Pada tahun 1980-an, lagu ini meledak dan menjadi anthem pesta di berbagai belahan dunia. Namun, sedikit orang tahu bahwa sebenarnya Beastie Boys membuat lagu ini dengan maksud parodi.
Alih-alih ditangkap sebagai satire, lagu ini justru dianggap serius dan menjadi simbol budaya pesta remaja. Hal itu membuat para personel Beastie Boys merasa malu dan tidak nyaman, karena lagu tersebut tidak merepresentasikan nilai yang sebenarnya mereka bawa.
Fenomena ini menunjukkan bagaimana sebuah karya bisa memiliki “hidupnya sendiri” setelah dirilis, kadang jauh dari maksud awal penciptanya.
- Oasis – Wonderwall
Bagi banyak orang, Wonderwall adalah lagu wajib setiap kali gitar akustik dikeluarkan. Lagu ini sangat populer dan menjadi salah satu identitas Oasis di kancah musik dunia.
Akan tetapi, Noel Gallagher, sang pencipta, merasa lagu ini terlalu komersial. Ia bahkan pernah mengatakan sudah bosan mendengarnya dan tidak mengerti mengapa publik begitu terobsesi pada Wonderwall.
Walau demikian, Wonderwall tetap menjadi salah satu lagu Inggris paling ikonik dan tidak bisa dipisahkan dari sejarah musik Britpop.
- John Lennon – Lagu-Lagu The Beatles
Setelah The Beatles bubar, John Lennon tidak segan melontarkan kritik terhadap band yang membesarkan namanya. Ia menilai banyak lagu The Beatles terlalu populis dan tidak memiliki kedalaman artistik yang ia harapkan.
Meski begitu, lagu-lagu The Beatles tetap dikenang sebagai salah satu warisan musik paling berpengaruh di dunia. Kritik Lennon menunjukkan betapa kompleks hubungan antara musisi dengan karyanya sendiri.
Mengapa Musisi Bisa Tidak Menyukai Lagu Mereka Sendiri?
Fenomena ini membuka wawasan bahwa karya seni tidak selalu sepenuhnya dikendalikan oleh penciptanya. Ada beberapa alasan mengapa musisi bisa menolak atau tidak menyukai lagu mereka sendiri:
- Kebosanan – Membawakan lagu yang sama berulang kali membuat musisi jenuh.
- Citra yang membatasi – Lagu tertentu membuat musisi terus diasosiasikan dengan satu karakter yang tidak lagi relevan.
- Salah tafsir publik – Beberapa lagu diterima berbeda dari maksud awal penciptanya.
- Perubahan artistik – Musisi berkembang, sementara lagu lama dianggap tidak lagi sesuai dengan perjalanan musikal mereka.
Penutup
Kisah tujuh musisi di atas menunjukkan bahwa popularitas tidak selalu identik dengan kebanggaan. Lagu yang dicintai jutaan orang bisa saja menjadi sumber kegelisahan bagi penciptanya.
Bagi kita sebagai pendengar, ini menjadi pengingat bahwa musik adalah karya seni yang kompleks, bisa membahagiakan banyak orang, tapi juga bisa meninggalkan beban bagi pembuatnya. Dan mungkin, justru di situlah letak keindahan musik ia hidup, berubah, dan tidak selalu bisa ditebak.