
SUARAJIWAMUSIC. Bagi penggemar JKT48, sorakan “Encore!” bukan hanya kebiasaan, tapi semacam ritual penutup yang ditunggu-tunggu. Tapi Sabtu malam, 20 Juli 2024, di panggung JKT48 Summer Tour 2024 Samarinda, sesuatu terasa janggal konser berakhir… begitu saja. Tak ada encore. Tak ada lagu kejutan. Penonton hanya disuguhi lampu yang menyala terang, tanda bahwa malam itu benar-benar usai.
Peristiwa ini bukan hanya meninggalkan tanda tanya, tetapi juga memantik diskusi panas di dunia maya. Bagi banyak orang, ini seperti nonton film tanpa ending. Kosong. Gantung.
Bukan Sekadar Tambahan Lagu
Encore bagi konser JKT48 bukan cuma penampilan bonus. Ia adalah momen pelepasan. Sebuah penutup emosional ketika idola dan penggemar saling memberi salam terakhir lewat lantunan lagu, pelukan suara, dan tepuk tangan.
Maka ketika bagian itu dihilangkan, apalagi tanpa penjelasan langsung di lokasi, sebagian penggemar merasa seolah kehilangan satu bagian penting dari pertunjukan yang selama ini mereka kenal dan cintai.
Reaksi Dunia Maya Harapan yang Tak Terjawab
Tak butuh waktu lama, tagar dan komentar soal konser “tanpa encore” pun mulai membanjiri lini masa. Mulai dari rasa kecewa, bingung, hingga asumsi-asumsi lain bermunculan. Beberapa penggemar yang hadir langsung di venue bahkan mengungkapkan kekecewaannya secara terbuka.
“Aku nunggu mereka balik lagi, tapi lampunya malah nyala. Rasanya kayak belum pamit,” tulis seorang pengguna X dengan nada getir.
Bukan Konser Tunggal, Tapi Bagian dari Tur
Menanggapi derasnya respons publik, pihak manajemen JKT48 akhirnya merilis pernyataan. Mereka menjelaskan bahwa konser di Samarinda bukanlah konser utama atau pertunjukan tunggal seperti yang biasa diselenggarakan di Jakarta, melainkan bagian dari rangkaian tur musim panas yang bersifat terbatas.
Format pertunjukan pun disesuaikan lebih ringkas dan padat. Maka dari itu, bagian encore ditiadakan demi menyesuaikan alur acara dengan durasi dan skala panggung di tiap kota.
Pelajaran dari Satu Malam
Meskipun penjelasan tersebut masuk akal secara teknis, banyak penggemar berharap ke depan komunikasi semacam ini bisa dilakukan lebih awal misalnya dengan menyisipkan informasi di tiket atau rundown. Karena dalam dunia fandom, kejelasan adalah bentuk penghormatan.
Encore bukan semata-mata urusan lagu tambahan. Ia adalah perasaan. Dan perasaan, seperti halnya kenangan, tak bisa dianggap sepele.
Panggung Telah Padam, Tapi Dialog Masih Hidup
Malam itu di Samarinda, panggung JKT48 memang telah ditinggalkan tanpa encore. Tapi nyatanya, momen tersebut justru menyulut percakapan tentang pentingnya menjaga kedekatan antara artis dan penggemarnya tak hanya lewat lagu, tapi juga lewat kepekaan dan transparansi.
Encore yang absen seolah mengajarkan tak semua konser berakhir dengan tepuk tangan, tapi setiap pertunjukan selalu menyimpan ruang untuk perbaikan. Dan bagi JKT48, yang dikenal dengan slogan “idola yang bisa kamu temui,” suara fans bukanlah bisikan melainkan bagian dari harmoni itu sendiri.