Monita Tahalea dan Dua Karya Baru Menjadi Cermin Jiwa

SUARAJIWAMUSIC. Ditengah hiruk-pikuk dunia, Monita Tahalea kembali hadir, bukan untuk menggelegar, tetapi untuk berbisik lembut ke hati. Dua lagu terbaru yang ia lahirkan“Sahabat Hidup” dan “Sesaat yang Abadi” bukan sekadar musik, melainkan puisi yang hidup, meditasi yang mengalun pelan, dan ruang sunyi tempat kita bisa bercermin.

“Sahabat Hidup” Lagu yang Ditulis dengan Pelukan

Bukan cinta menggebu-gebu, bukan pula roman picisan. “Sahabat Hidup” adalah lagu tentang kehadiran yang tulus, tentang orang-orang yang tidak pergi ketika dunia terasa sepi entah pasangan, sahabat, atau keluarga yang mencintai tanpa syarat.

Monita menuturkan lagu ini seperti seseorang yang mengucap doa lirih untuk orang yang dicintainya. Nada-nadanya hangat, liriknya seperti bisikan kasih, dan aransemen yang minimalis justru memperkuat kedalaman maknanya.

“Sesaat yang Abadi” Momen Singkat yang Tinggal Selamanya

Sementara itu, “Sesaat yang Abadi” membawa pendengar ke ruang kontemplasi. Lagu ini seolah memotret detik-detik kecil yang tak pernah ingin kita lupakan sebuah senyuman, genggaman tangan, atau tatapan yang diam-diam menyimpan dunia.

Dalam balutan harmoni yang syahdu, Monita mengajak kita memaknai bahwa keabadian tak selalu hadir dalam panjangnya waktu, tetapi dalam kehadiran yang penuh makna. Lagu ini adalah pengingat bahwa hening pun bisa berbicara, jika kita mau mendengarkan.

Musik yang Tidak Sekadar Didengar

Kedua karya ini telah tersedia diberbagai platform digital, dan seperti karya-karya Monita sebelumnya, ia tidak tampil mencolok namun meninggalkan jejak. Tak ada letupan instrumen yang mengejutkan, hanya dentingan lembut dan lirik yang menyelinap pelan kesanubari.

Monita kembali membuktikan bahwa musik pop bisa menjadi jembatan antara perasaan dan kata-kata, ketika mulut tak mampu berbicara.

Dua Lagu, Banyak Rasa

Lewat “Sahabat Hidup” dan “Sesaat yang Abadi”, Monita mengajak kita untuk kembali kedalam diri, untuk menengok hati, dan mengenali siapa yang benar-benar hadir dalam diam. Musiknya bukan untuk dirayakan dengan tepuk tangan, melainkan untuk dirasakan dalam sunyi, dalam jeda, dalam detik yang abadi.

Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai